ECONOMIC ZONE -Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 masih tumbuh kuat di tengah tantangan ekonomi global.
Ia menjelaskan daya beli masyarakat yang tetap terjaga mendukung konsumsi rumah tangga. Selain itu, ada peran shock absorber Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam mendorong efektivitas program perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan dan energi, penciptaan lapangan kerja, serta stimulus pada periode libur sekolah.
“Investasi diperkirakan tumbuh kuat ditopang oleh proyek-proyek hilirisasi bernilai tambah tinggi dan pembangunan infrastruktur pada program prioritas pemerintah. Konsumsi pemerintah diperkirakan tumbuh positif sejalan dengan percepatan belanja program prioritas, pembayaran gaji ke-13 bagi aparatur negara, dan penyaluran bantuan sosial,” ucap Purbaya dalam rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang digelar di Kantor Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Jakarta, Senin (3/8).
Purbaya menambahkan, koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terus diperkuat dalam menjaga kecukupan likuiditas perekonomian dan perbankan. Hal itu, kata dia, tercermin dari pertumbuhan uang primer yang tinggi sepanjang triwulan II dan berlanjut tumbuh 15,4% pada Juli 2026, dengan fungsi intermediasi perbankan yang semakin baik.
Meskipun aktivitas manufaktur sempat termoderasi pada akhir triwulan II, Purbaya menyebut aktivitas manufaktur kembali melanjutkan ekspansi pada Juli 2026 dengan PMI manufaktur di level 50,2. Itu menurutnya menunjukkan pemulihan optimisme pelaku usaha.
“Ke depan, sinergi kebijakan antara lembaga anggota KSSK akan terus diperkuat guna menjaga keberlanjutan momentum pertumbuhan. Dengan sinergi kebijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 diperkirakan berada pada kisaran 5,6%-6,0% year-on-year, ditopang berbagai sinergi kebijakan pemerintah dan lembaga anggota KSSK untuk menjaga keberlanjutan momentum pertumbuhan,” imbuhnya.
Komentar