Endang Muchtar
Selasa, 28 Juli 2026 - 13:22 WIB

Sektor Pangan Penyelamat Alat Berat di Kala Lesu di Tengah Perlambatan Pasar Pertambangan

Foto/Endang Muchtar/ECONOMICZONE
Foto/Endang Muchtar/ECONOMICZONE
Dummy

ECONOMIC ZONE - Berlanjutnya sejumlah program strategis pemerintah di sektor pangan, perkebunan, dan infrastruktur menjadi penopang utama permintaan alat berat nasional, terutama di tengah perlambatan pasar pertambangan akibat ketidakpastian harga komoditas.

 Pelaku industri menilai proyek-proyek seperti pengembangan food estate, cetak sawah, perkebunan tebu, hingga pembangunan di sektor konstruksi mampu menjaga kebutuhan alat berat, meski investasi di sektor tambang masih cenderung bergerak hati-hati. Ketua Umum Himpunan Industri Alat Berat Indonesia (Hinabi) Widayat Raharjo mengatakan, kinerja industri alat berat pada semester I/2026 masih mengalami tekanan, dikutip dari bisnis.com.

Produksi alat berat anggota Hinabi turun sekitar 12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Menurutnya, penurunan tersebut terutama dipengaruhi melambatnya permintaan dari sektor pertambangan, sementara sektor non-tambang justru menjadi penyumbang terbesar terhadap penjualan.

"Kinerja semester I/2026 dibanding semester I/2025 turun sekitar 12%. Sektor yang paling banyak berkontribusi adalah non-mining, terutama forestry dan agro," ujarnya kepada Bisnis, belum lama ini.  Widayat menyebut, hingga akhir tahun ini, prospek permintaan dari sektor tambang masih sulit diprediksi karena sangat bergantung pada perkembangan harga komoditas. Sebaliknya, permintaan dari sektor agro dan kehutanan diperkirakan masih tumbuh.

“Untuk mining rasanya masih wait and see, agro atau forestry sedikit grow,” tambahnya.  Kendati kinerja lesu, Widayat menilai Indonesia tetap menjadi pasar yang menarik bagi produsen alat berat global karena memiliki permintaan domestik yang besar sekaligus berpotensi menjadi basis produksi untuk kawasan Asia Tenggara.

Saat ini, lanjut Widayat, kapasitas produksi anggota Hinabi mencapai sekitar 11.000 unit per tahun dan diperkirakan meningkat menjadi sekitar 14.000 hingga 15.000 unit per tahun seiring masuknya investasi baru. Akan tetapi, industri masih menghadapi tantangan berupa fluktuasi permintaan yang sangat dipengaruhi naik-turunnya harga komoditas.

Terpisah, Presiden Direktur PT Hexindo Adiperkasa Tbk Dwi Swasono sepakat bahwa permintaan alat berat saat ini justru lebih banyak ditopang sektor non-tambang, khususnya agro, konstruksi, dan kehutanan. Oleh karena itu, perseroan fokus menyasar sektor tersebut, terutama untuk produk wheel loader dan bulldozer. 

Menurutnya, permintaan dari sektor tambang masih bergerak terbatas seiring kondisi industri yang relatif stabil setelah penyesuaian rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB). "Untuk pertambangan belum menjadi prioritas karena kondisinya masih maksimum stabil, terkait RKAB. Yang non-tambang menjadi target kita, terutama konstruksi dan plantation," ungkap Dwi saat ditemui Bisnis, Senin (27/7/2026).

 Strategi tersebut tecermin pada kinerja penjualan perusahaan. Pada kuartal I tahun buku 2026/2027, yang berlangsung sejak April 2026, penjualan Hexindo secara kuantitas telah melampaui target internal. Bahkan, realisasi penjualan meningkat sekitar 10% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Secara kuantitas kami melebihi target. Artinya, kondisi pasar masih benar-benar membutuhkan kehadiran alat berat untuk kontinuitas pembangunan, baik di sektor konstruksi, forestry, plantation maupun tambang,"  imbuhmnya.  Dwi menjelaskan, sektor agro menjadi kontributor terbesar terhadap permintaan alat berat dengan porsi sekitar 37%, disusul sektor konstruksi sebesar 29%. 

Sementara itu, sisa permintaan berasal dari sektor kehutanan dan pertambangan. Menurutnya, tingginya kebutuhan dari sektor agro tidak terlepas dari berbagai proyek pengembangan kawasan pangan dan perkebunan yang masih berjalan. "Kalau bicara food estate kan macam-macam, ada cetak sawah, sugarcane, ada sawit juga. 
Itu sangat signifikan membutuhkan alat berat.

Tinggal periode kontrak masing-masing proyek berbeda-beda," tuturnya. Meski demikian, dia menegaskan produsen maupun dealer alat berat tidak bertransaksi langsung dengan pemerintah. Penjualan dilakukan kepada kontraktor atau pelaku usaha yang memperoleh proyek, baik dari pemerintah maupun swasta. 

Hexindo, lanjutnya, hanya mendukung kebutuhan pelanggan yang menjalankan proyek tersebut melalui penyediaan unit dan layanan purna jual. Dwi juga menilai besarnya belanja pemerintah masih memengaruhi pola permintaan alat berat. Sebagai contoh, ketika anggaran pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara mengalami penyesuaian, kebutuhan pembelian unit baru ikut menurun dan bergeser ke penyewaan alat. 
"Intinya mengikuti bujet pemerintah. Misalnya IKN, ketika anggarannya diketatkan maka investasi alat berkurang dan lebih banyak diarahkan ke rental," jelasnya.  Di sisi lain, investasi di sektor perkebunan dinilai masih berjalan agresif.

Selain itu, perusahaan kehutanan mulai melakukan penggantian alat berat yang telah beroperasi lebih dari 5 tahun sehingga menopang permintaan baru. 
Di tengah prospek tersebut, Hexindo menargetkan penjualan sedikitnya 3.000 unit ekskavator sepanjang tahun buku 2026/2027. Adapun, untuk memperkuat penetrasi di segmen nonpertambangan, perusahaan katanya meluncurkan lini WIXIM Supported by LANDCROS yang terdiri atas dua model wheel loader dan dua model bulldozer.

Dummy

Komentar

Dummy

Berita Lainnya

 
Nasional
15/09/2026 08:07 WIB
Telkom Solution Raih Penghargaan Business Impact & Industry Growth untuk Market B2B ICT di Indonesia
Penghargaan KGI tegaskan kontribusi Telkom Solution bagi transformasi digital di berbagai Industri.
 
Nasional
14/09/2026 22:02 WIB
Dorong Predictive Cyber Intelligence, MDI Ventures Sabet Indonesia Cyber Security Excellence Award 2026
Investasi strategis di CYFIRMA perluas kolaborasi solusi keamanan siber yang inovatif di Indonesia.
 
Nasional
11/09/2026 17:59 WIB
TelkomGroup Dorong Gaya Hidup Berkelanjutan melalui Zero Plastic Movement
Sediakan fasilitas water refill station bagi karyawan dan perkuat kolaborasi komunitas hingga pelaku usaha.
 
Nasional
10/09/2026 21:55 WIB
Raih Golden Trophy dan The Most Committed GRC Leader 2026, Telkom Akses Perkuat Tata Kelola, Manajemen Risiko, Kepatuhan, dan ESG
Pertahankan predikat Bintang 5 tiga tahun berturut-turut, tegaskan komitmen GRC sebagai fondasi keberlanjutan bisnis.
 
Nasional
08/09/2026 17:27 WIB
BTN Pertahankan Peringkat Tertinggi idAAA dengan Outlook Stable dari PEFINDO
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) berhasil mempertahankan peringkat tertinggi idAAA dengan outlook stable
 
Nasional
08/09/2026 16:42 WIB
TelkomGroup Optimalkan Aset Properti, Pastikan Kepentingan Perusahaan Tetap Terjaga
Rencana pemanfaatan ruang di GMP buka peluang revenue baru dari konektivitas digital
 
Nasional
07/09/2026 19:41 WIB
Strategi Telkom Jaga Momentum Pertumbuhan, Tingkatkan Nilai Tambah dari Bisnis Infrastruktur Digital
Kinerja 1H26 tumbuh kuat, didukung monetisasi bisnis seluler, disiplin operasional, dan optimalisasi aset strategis
Ad Placholder