ECONOMIC ZONE - Kabar positif datang dari sisi penerimaan negara. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa realisasi pajak sepanjang Mei 2026 mencatatkan pertumbuhan sekitar 22% secara tahunan.
Realisasi ini jauh melampaui capaian April 2026 yang sudah dinilai menggembirakan dengan pertumbuhan 16,1% secara tahunan atau tercarar Rp 646,3 triliun“Pendapatan pajak kita lebih bagus dibanding tahun lalu. Tumbuhnya 22% lebih,” ujar Purbaya di Jakarta, dikutip Kamis (4/6).
Menurutnya, reformasi perpajakan yang sudah dilakukan pemerintah saat ini telah menghasilkan peningkatan penerimaan perpajakan yang sangat signifikan.
Lonjakan penerimaan itu turut mendorong keseimbangan primer bulan Mei kembali ke zona positif. Menurut Purbaya, surplus primer Mei bahkan lebih tinggi dibandingkan surplus April yang tercatat Rp 28 triliun.
Ini memberi sinyal bahwa negara masih mampu menutup belanja non-bunga utang dari pendapatan sendiri.“Di bulan Mei juga primary surplusnya positif lagi, lebih tinggi dibanding bulan April,” kata Purbaya.
Secara keseluruhan, defisit APBN hingga akhir Mei 2026 diperkirakan berada di kisaran 0,7% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka ini sedikit lebih lebar dari defisit April yang terealisasi 0,64% PDB atau setara Rp164,4 triliun, namun masih jauh di bawah batas aman 3% yang diamanatkan undang-undang.
“Jadi kalau ada isu pemerintah kebijakannya ngaur, fiskalnya ugal-ugalan, enggak begitu. Kita makin bagus,” katanya.
Purbaya menegaskan rincian lengkap akan dipaparkan dalam publikasi APBN Kita mendatang, termasuk visualisasi data kinerja fiskal per pos anggaran.
Komentar