Roni Mawardi
Kamis, 16 Juli 2026 - 22:43 WIB

BTN Cetak Kinerja Cemerlang, Laba Bersih Semester I/2026 Melesat 40,8% dan NPL Turun Jadi 2,99%

Foto/RoniMawardi/ECONOMICZONE
Foto/RoniMawardi/ECONOMICZONE
Dummy

ECONOMIC ZONE - Jakarta, 16 Juli 2026 – Di tengah dinamika ekonomi global, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih dan perbaikan kualitas aset pada semester I/2026. Perseroan mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp2,40 triliun atau tumbuh 40,8% secara tahunan (year-on-year/yoy) per semester I/2026 dari Rp1,70 triliun di periode yang sama tahun lalu. Sementara non-performing loan (NPL) turun dari 3,3% pada semester I/2025 menjadi 2,99% di semester I/2026.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan kinerja positif tersebut menunjukkan strategi transformasi BTN yang selaras dengan arah transformasi Danantara Indonesia, telah berjalan sesuai target. Menurut Nixon, BTN tidak hanya terus memperkuat posisinya sebagai pemimpin pembiayaan perumahan nasional, tetapi juga membangun ekosistem layanan keuangan yang terintegrasi guna mendukung program prioritas pemerintah, termasuk Program 3 Juta Rumah, sekaligus memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat.

“Pencapaian ini merupakan hasil dari transformasi selama satu dekade yang secara konsisten kami lakukan. Kami optimistis hingga akhir tahun nanti, kinerja BTN tetap on track melanjutkan catatan positif di paruh pertama tahun ini,” ujar Nixon dalam Konferensi Pers Paparan Kinerja per 30 Juni 2026 di Jakarta, Kamis (16/7).

Nixon menjelaskan transformasi BTN yang dibangun secara bertahap selama lebih dari satu dekade, telah dimulai dari penguatan posisi sebagai housing specialist, dilanjutkan dengan transformasi operasional, hingga kini memasuki fase beyond mortgage untuk membangun ekosistem layanan keuangan yang lebih terintegrasi bagi keluarga Indonesia. Sejalan dengan arah tersebut, Perseroan juga terus memperkuat fondasi tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan melalui digitalisasi proses, optimalisasi neraca, penguatan pengendalian risiko, serta implementasi AI Governance guna memastikan pertumbuhan yang sehat, tangguh, dan berkelanjutan.

Hingga semester I/2026, BTN mencatatkan penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasi sebesar Rp418,11 triliun, meningkat 11,2% yoy dari Rp376,11 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan di sektor kredit perumahan sebesar 4,8% yoy dari 317,77 triliun menjadi Rp332,88 triliun per Juni 2026 dan lonjakan kredit non-perumahan sebesar 46,1% yoy dari Rp58,34 triliun pada Juni 2025 menjadi Rp85,22 triliun di Juni 2026.

Kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi masih menjadi mesin pendorong kredit perumahan dengan kenaikan sebesar 8,1% yoy dari Rp182,17 triliun menjadi Rp196,96 triliun per Juni 2026. Selain itu, Kredit Program Perumahan (KPP) yang disalurkan BTN juga tercatat mencapai Rp4,1 triliun per Juni 2026, sejak dirilis pada akhir Oktober 2025.

Untuk peningkatan kredit non-perumahan, lanjut Nixon, mayoritas didukung perluasan penetrasi pada berbagai sektor seperti pendidikan, kesehatan, pemerintahan, lembaga keuangan, hingga ritel. Perseroan juga menggandeng perusahaan multifinance untuk memperluas pembiayaan kendaraan bermotor sebagai bagian dari strategi diversifikasi bisnis beyond mortgage sekaligus meningkatkan cross selling kepada nasabah eksisting.

Sejalan dengan ekspansi pembiayaan, total aset konsolidasi BTN meningkat dari Rp484,96 triliun menjadi Rp545,16 triliun per semester I/2026 atau tumbuh 12,4% yoy. Pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin kuatnya kapasitas Perseroan dalam mendukung pembiayaan sektor perumahan nasional sekaligus memperluas bisnis pada ekosistem terkait.

Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun BTN juga mencapai Rp433,00 triliun per semester I/2026 atau tumbuh 6,6% yoy dari Rp406,38 triliun di periode yang sama tahun lalu. Nixon menjelaskan BTN juga terus memperkuat struktur dana murah sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang. BTN telah menggelar berbagai inisiatif seperti akuisisi dana ritel, peningkatan transaksi digital, penguatan payroll, hingga perluasan kerja sama dengan pemerintah daerah dan institusi. Berbagai inisiatif tersebut berhasil menjaga cost of fund berada di kisaran 3,01% sepanjang semester I/2026.

Menurut Nixon, penguatan struktur pendanaan tersebut menjadi salah satu prioritas utama Perseroan pada tahun ini. "Kami tidak hanya mengejar pertumbuhan kredit, tetapi juga memastikan pertumbuhan tersebut didukung struktur pendanaan yang semakin kuat sehingga mampu menjaga profitabilitas dan keberlanjutan bisnis Perseroan dalam jangka panjang," ujar Nixon.

Sejalan dengan penguatan struktur pendanaan, hingga semester I/2026, supperapps Bale by BTN telah digunakan lebih dari 4,3 juta pengguna. Peningkatan pengguna tersebut didukung lebih dari 344 ribu merchant, lebih dari 14 ribu developer, dan 59 pemerintah daerah. Secara transaksi, jumlah dan nominal transaksi menggunakan Bale by BTN tumbuh masing-masing sebesar 41,6% yoy dan 55,3% yoy per Juni 2026.

Seiring pertumbuhan bisnis, kualitas aset BTN juga terus membaik. Selain NPL yang membaik, perseroan juga sukses menurunkan Loan at Risk (LAR) menjadi 18,6% di semester I/2026 dari 20,2% di periode yang sama tahun lalu. Per semester I/2026, perseroan juga menekan Cost of Credit (CoC) menjadi 0,7% dari 2,0% di semester I/2025. Perbaikan kualitas aset tersebut mencerminkan keberhasilan BTN dalam menerapkan prinsip kehati-hatian, memperkuat manajemen risiko, serta meningkatkan kualitas portofolio pembiayaan.

"Transformasi yang kami jalankan bukan hanya bertujuan memperbesar bisnis, tetapi membangun fondasi pertumbuhan yang sehat, efisien, dan berkelanjutan. Dengan kualitas aset yang semakin baik, struktur pendanaan yang semakin kuat, serta ekosistem digital yang terus berkembang, BTN optimistis mampu menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," ujar Nixon.

AKUISISI PORTOFOLIO SMBC INDONESIA DONGKRAK NASABAH BTN DAN PERKUAT PROFITABILITAS BTN

Sebagai bagian dari strategi beyond mortgage dan memperkuat pertumbuhan anorganik, BTN telah menyelesaikan akuisisi tahap pertama portofolio kredit pensiun PT Bank SMBC Indonesia Tbk dengan nilai transaksi sekitar Rp12,6 triliun.

Nixon menjelaskan, akuisisi tersebut memperkuat komposisi portofolio kredit non-perumahan BTN sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan baru dengan profil imbal hasil yang lebih tinggi dan risiko yang tetap terjaga. Seluruh portofolio yang diakuisisi merupakan kredit berkualitas (performing loan), sehingga mendukung perbaikan kualitas aset Perseroan dan memberikan kontribusi positif terhadap profitabilitas.

"Strategi beyond mortgage tidak berarti meninggalkan bisnis inti pembiayaan perumahan, tetapi melengkapinya sehingga nasabah BTN bisa mengakses kredit dari masa produktif hingga masa pensiun. Langkah ini juga akan meningkatkan daya tahan bisnis BTN dalam jangka panjang," ujar Nixon.

BTN juga akan melanjutkan akuisisi tahap kedua pada kuartal III-2026 senilai sekitar Rp7,34 triliun, sehingga secara keseluruhan Perseroan akan mengelola sekitar 344,6 ribu rekening kredit pensiun. Nixon menjelaskan, melalui strategi pertumbuhan anorganik tersebut, BTN menargetkan porsi kredit non-perumahan meningkat secara bertahap hingga sekitar 30% dari total portofolio kredit dalam lima tahun ke depan, sehingga struktur bisnis Perseroan menjadi semakin seimbang, resilien, dan mampu menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Dummy

Komentar

Dummy

Berita Lainnya

 
Nasional
5 jam yang lalu
BNI Bawa Tiga UKM Indonesia Tembus Pasar Korea Selatan
BNI membawa tiga usaha kecil dan menengah (UKM) berorientasi ekspor untuk mengikuti Korea Import Expo 2026
 
Nasional
8 jam yang lalu
Kolaborasi Generasi Muda dan Kementerian Kehutanan Jaga Kelestarian Hutan di Era Pembangunan IKN
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kementerian Kehutanan berkolaborasi dengan Balai P2SDM Wilayah V Samarinda
 
Nasional
9 jam yang lalu
Pemerintah Raup Kinerja Investasi Semester I 2026 Melonjak 7,2% dari Rp1.010,6 Triliun
Capaian tersebut telah memenuhi 49,5% dari target investasi nasional sepanjang 2026 yang dipatok sebesar Rp 2.041,3 triliun.
 
Nasional
9 jam yang lalu
Presiden Prabowo Lakukan Groundbreaking Melalui Daring Proyek Gas Masela Senilai Rp376 Triliun
Peresmian dilakukan oleh Prabowo yang menyatakan dimulainya pembangunan salah satu proyek energi terbesar di Indonesia tersebut.
 
Nasional
10 jam yang lalu
Update Harga Tiket Pertandingan Timnas Indonesia Terbaru di Piala ASEAN Hyundai 2026
Harga tiket Piala ASEAN yang ditetapkan PSSI cukup terjangkau dengan empat kategori tribun. Untuk Tribun Utara dan Tribun Selatan, suporter timnas Indonesia cukup membayar Rp 100.000.
 
Nasional
11 jam yang lalu
Kekecewaan Fans dan Kecaman Publik Terhadap Timnas Argentina
Salah satu faktor yang sering disebut sebagai alasan adalah sikap rasis dan arogan penggemar serta pemain Argentina.
 
Nasional
11 jam yang lalu
Mengenal Internet Rakyat dan Starlite, Dua Layanan Internet dari Grup Surge (WIFI)
Internet Rakyat merupakan inisiatif Surge WIFI, melalui pelaksana operasional Telemedia, dan bekerja sama dengan OREX SAI Inc., perusahaan patungan antara NTT DOCOMO, INC. dan NEC Corporation.
Telkomsel