Eko Sumardi
Selasa, 22 Juli 2025 - 18:16 WIB

Bank Indonesia: Uang Beredar Juni 2025 Mencapai Rp9.597,7 Triliun

Foto/Ist/ECONOMICZONE
Foto/Ist/ECONOMICZONE
Dummy

ECONOMIC ZONE - Posisi jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) Juni 2025 mencapai Rp9.597,7 triliun. Jumlah tersebut tersebut mengalami pertumbuhan 6,5% (yoy), meningkat dibanding Mei 2025 yang sebesar 4,9% (yoy). Demikian siaran pers BI, Selasa (22/7/2025).

Peningkatan jumlah uang beredar tersebut didorong adanya pertumbuhan uang beredar sempit (M1)  yang mencapai 8,0% (yoy) dan uang kuasi sebesar 4,7% (yoy).

Perkembangan M2  juga dipengaruhi perkembangan penyaluran kredit dan aktiva luar negeri bersih. Laporan  BI menyatakan, posisi penyaluran kredit pada Juni 2025 bertumbuh 7,6% (yoy). Adapun pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 8,1% (yoy). Adapun aktiva luar negeri bersih bertumbuh sebesar 3,9%, relatif stabil terhadap pertumbuhan Mei 2025.

Kredit yang diberikan tersebut  hanya dalam bentuk pinjaman (loans). Tidak termasuk instrumen keuangan yang dipersamakan dengan pinjaman, seperti surat berharga (debt securities), tagihan akseptasi (banker's acceptances), dan tagihan repo.

Selain itu, kredit yang diberikan tidak termasuk kredit yang diberikan oleh kantor bank umum yang berkedudukan di luar negeri, dan kredit yang disalurkan kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk. Adapun aktiva luar negeri bersih tumbuh sebesar 3,9%. Angka ini relatif stabil terhadap pertumbuhan Mei 2025.

Sementara itu, tagihan bersih kepada pemerintah pusat (Pempus) terkontraksi sebesar 8,2% (yoy), setelah pada bulan sebelumnya terkontraksi sebesar 25,7% (yoy).

BI juga mencatat bahwa uang primer (M0) adjusted pada Juni 2025 tumbuh 8,6% (yoy), melanjutkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 14,5% (yoy) sehingga tercatat Rp1.957,1 triliun. Perkembangan ini dipengaruhi  pertumbuhan uang kartal yang diedarkan sebesar 9,0% (yoy) dan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 8,1% (yoy).

Pertumbuhan M0 adjusted juga dipengaruhi oleh pengendalian moneter yang sudah mempertimbangkan dampak pemberian insentif likuiditas (pengendalian moneter adjusted).

 

Dummy

Komentar

Dummy

Berita Lainnya

 
Nasional
4 menit yang lalu
Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 12 Juni 2026: Tembus Rp 2,7 Juta Lagi
Sebelumnya, harga emas Antam (ANTM) pada hari Kamis (11/6/2026) sempat ambles Rp 24.000 ke level Rp 2.689.000 per gram.
 
Nasional
5 jam yang lalu
Maybank Buka Suara soal Pemeriksaan Kejagung terkait Salim Ivomas
"Dalam memberikan fasilitas kredit, perseroan senantiasa mengikuti kaidah dan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta melalui analisa dan prinsip kehati-hatian yang berlaku," tegasnya.
 
Nasional
6 jam yang lalu
Pengetatan Restitusi Pajak Dinlai Berpotensi Tekan Arus Kas Perusahaan Farmasi
Pandangan tersebut disampaikan Parlin dalam podcast bertema Bisnis Farmasi Pascapengetatan Fasilitas Restitusi yang diselenggarakan Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI).
 
Nasional
10/06/2026 18:48 WIB
Pengelola Mal Keluhkan Rupiah Melemah Imbas Lesunya Daya Beli
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah bertengger pada Rp17.368 per dolar AS pada 4 Mei 2026. Nilai tersebut terus melemah hingga menyentuh Rp18.039 per dolar AS pada 5 Juni 2026.
 
Nasional
10/06/2026 16:21 WIB
Muruarar Ajak  BPK Bahas Penguatan Tata Kelola Program Perumahan
Dalam pertemuan tersebut, Menteri PKP menyampaikan apresiasi atas berbagai masukan dan pengawasan yang selama ini dilakukan BPK dalam mendukung pelaksanaan program perumahan yang transparan dan akuntabel.
 
Nasional
10/06/2026 15:04 WIB
Penjualan Mobil Secara Nasional Surut Pada Mei 2026
Penjualan pada Mei 2026 masih lebih baik jika dibanding bulan yang sama di 2025 baik secara wholesales atau retail.
 
Nasional
10/06/2026 14:41 WIB
Pemerintah Menunda Insentif Bisa Berdampak pada Pembiayaan Kendaraan Listrik Multifinance
Terkait kinerja industri, piutang pembiayaan perusahaan multifinance mencapai Rp 514,65 triliun per April 2026. Nilainya tumbuh 2,08% secara year on year (YoY).
Telkomsel