ECONOMIC ZONE - Keterbatasan ekonomi membuat kehidupan sehari-hari mereka jauh dari layak. Untuk sekadar makan, bantuan dari warga sekitar datang sesekali, namun belum mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka. Rasa aman pun menjadi kemewahan yang sulit dirasakan itulah ungkapan penghuni kolong jembatan yang tidak mau disebutkan lokasi dan identitasnya.
Saat mencoba menyusuri kolong jembatan untuk mengetahui apa saja aktivitas warga di sana. Untuk masuk ke dalamnya, orang harus menunduk, bahkan jongkok. Saat memasuki kawasan tersebut, di sebelah kanan maupun kiri terdapat tempat tinggal warga.
Ketinggian tempat itu hanya sekitar 150 cm. Hal yang pertama kali dirasakan adalah udara yang pengap dan panas karena kurangnya sirkulasi udara.
Bau tidak sedap juga mewarnai kawasan tersebut. Kawasan permukiman itu diapit bantaran kali ibukota. Tempat tersebut juga minim pencahayaan. Di setiap tempat tinggal warga tidak memiliki pintu.
Mereka hanya mengandalkan kain lebar untuk menutup rumahnya itu. Terlihat warga juga menjemur pakaiannya di depan rumah mereka. Warga yang ada di situ melakukan aktivitasnya seperti biasa meskipun harus menunduk saat berjalan. Di kawasan tersebut juga hanya memiliki dua toilet yang dibuat untuk bersama.
Terlihat warga yang tinggal di kawasan itu terdiri atas banyak anggota dalam satu rumah. Padahal rumah tersebut luasnya kira-kira hanya 2x3 meter.
Jika tidur, mereka harus rela berdesak-desakan dengan anggota keluarga lainnya. Mayoritas warga yang tinggal di situ bekerja sebagai pedagang, pengamen, hingga pemulung.
Banyak orang yang mencari peruntungan dengan datang ke Jakarta, tapi tak semuanya berhasil. Sejumlah orang mengalami nasib kurang beruntung karena tak mendapat pekerjaan layak dan terpaksa tinggal di kolong jembatan.
Tentu, kolong jembatan bukanlah tempat yang cocok untuk dijadikan sebagai tempat tinggal. Suara berisik kendaraan bermotor, gelap, sumpek, menjadi santapan sehari-hari mereka.
Komentar