ECONOMIC ZONE - Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika Indonesia (PERKOSMI) mengungkapkan industri kosmetik nasional masih menghadapi ketergantungan impor bahan baku hingga 80 persen di tengah pesatnya pertumbuhan merek lokal pada Rabu (6/5/2026).
Ketergantungan tersebut dipicu oleh rumitnya formulasi produk yang membutuhkan puluhan jenis komponen berbeda dalam satu unit stok (SKU). Dilansir dari Lifestyle, pemenuhan kebutuhan bahan baku dari dalam negeri masih terkendala ketersediaan jumlah dan variasi jenis.
Ketua PERKOSMI, Sancoyo Antarikso, menjelaskan bahwa satu produk kosmetik dapat menggunakan 30 sampai 40 jenis bahan baku yang tidak semuanya tersedia secara domestik. Kondisi ini menyebabkan produksi bahan baku lokal sering kali dianggap belum menguntungkan secara komersial.
Ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor hingga potensi kenaikan harga, seiring tekanan geopolitik yang belum mereda menjadi hambatan nyata untuk mencapai potensi besar tersebut. Sektor kosmetik nasional merupakan salah satu subsektor prioritas yang diklaim memiliki kinerja baik.
Kementerian Perindustrian mencatat, nilai pasar industri kosmetik Indonesia pada 2025 mencapai sekitar US$9,74 miliar dengan proyeksi pertumbuhan tahunan sebesar 4,33% hingga 4,37%.
Selain itu, kinerja ekspor kosmetik meningkat dari US$416,8 juta pada 2024 menjadi US$473,8 juta pada 2025. Berbagai lembaga riset termasuk Statista juga memproyeksikan nilai pasar kosmetik Indonesia pada 2026 menembus lebih dari US$10 miliar dengan rata-rata pertumbuhan di atas 5,5% dalam lima tahun ke depan.
Pertumbuhan industri kosmetik juga tercermin dari meningkatnya jumlah pelaku usaha. Berdasarkan data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), terdapat 1.684 industri kosmetik di Indonesia dan sekitar 85% di antaranya merupakan industri kecil dan menengah (IKM).
Komentar