Endang Muchtar
Rabu, 06 Mei 2026 - 15:24 WIB

Perry Ambil Langkah BI Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah

Foto/dok. IG Perry Warjiyo/ECONOMICZONE
Foto/dok. IG Perry Warjiyo/ECONOMICZONE
Dummy

ECONOMIC ZONE - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai wajarnya (undervalue) dan diyakini akan kembali stabil serta menguat ke depan. Hal tersebut disampaikan usai rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Istana Merdeka, Selasa (5/5/2026). 

“Tadi dibahas dan mendapatkan arahan dari Bapak Presiden mengenai nilai tukar. Berkaitan dengan dua hal penting mengenai nilai tukar,” katanya dalam forum itu Menurut Perry, kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang kuat menjadi dasar keyakinan tersebut Dia menyebut pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi yang terkendali, pertumbuhan kredit, serta cadangan devisa yang solid menjadi faktor penopang utama.
 
“Bahwa yang pertama nilai tukar sekarang itu undervalue. Undervalue dan ke depan kita yakini akan stabil dan menguat. Kenapa undervalue? Tadi disampaikan oleh Pak Menko Perekonomian, fundamental kita itu kuat,” ucapnya.
 
Kendati demikian, tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek masih terjadi akibat faktor eksternal dan musiman. Dari sisi global, kenaikan harga minyak, suku bunga Amerika Serikat, serta penguatan dolar menjadi pemicu utama. Selain itu, arus modal keluar dari negara berkembang turut memberi tekanan.

“Nah, kenapa dalam jangka pendek ini ada tekanan-tekanan nilai tukar? Sebabnya ada dua yaitu ada faktor global dan kemudian pada faktor-faktor musiman,” imbuhnya. Perry juga menjelaskan bahwa secara musiman, permintaan dolar meningkat pada periode April hingga Juni, seiring kebutuhan pembayaran dividen, utang luar negeri, serta aktivitas terkait ibadah haji.
 
Untuk menjaga stabilitas rupiah, Bank Indonesia telah menyiapkan tujuh langkah strategis yang mendapat dukungan Presiden. Langkah pertama adalah intervensi pasar valas, baik di dalam negeri maupun luar negeri, termasuk melalui skema Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan Offshore NDF di berbagai pusat keuangan global.
 
“Kami akan terus melakukan intervensi secara tunai dan Domestic Non-Deliverable Forward di dalam negeri dan juga Non-Deliverable Forward NDF di pasar luar negeri di Hong Kong, di Singapura, di London, di New York, kami terus akan melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah baik di dalam negeri maupun dari luar negeri.
 
Cadangan devisa kami lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah itu,” tuturnya. Langkah kedua dilakukan melalui optimalisasi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik aliran modal masuk, guna mengimbangi tekanan outflow di pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN).

Selain itu, BI juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah, termasuk pembelian SBN di pasar sekunder yang hingga saat ini telah mencapai Rp123,1 triliun. “BI akan terus membeli SBN dari pasar sekunder.
 
Ini koordinasi sudah awal tahun koordinasikan dan kita lakukan.” Upaya lainnya mencakup menjaga likuiditas perbankan, yang tercermin dari pertumbuhan uang primer yang mencapai dua digit, serta memperketat aturan pembelian valuta asing di dalam negeri.
 
“Yang dulunya US$100.000 dolar per orang per bulan kita turunkan US$50.000 dolar per orang per bulan,” katanya Tak hanya itu, dia pun menekankan bahwa batas tersebut bahkan akan kembali diturunkan menjadi US$25.000 per bulan, dengan syarat adanya underlying transaksi untuk pembelian di atas batas tersebut.
 
Selain itu, BI juga mendorong diversifikasi penggunaan mata uang melalui penguatan transaksi lokal, termasuk penggunaan yuan dalam perdagangan dengan China, guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Langkah berikutnya adalah memperkuat intervensi di pasar offshore serta memberikan ruang bagi perbankan domestik untuk turut berpartisipasi dalam transaksi NDF di luar negeri.

Terakhir, BI meningkatkan pengawasan terhadap perbankan dan korporasi yang memiliki aktivitas pembelian dolar tinggi, bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. 
 
“Nomor tujuh adalah peningkatan pengawasan kepada bank-bank dan korporasi yang terutama kami lihat bank-bank korporasi yang aktivitas pembelian dolarnya tinggi kami kirim pengawas ke sana, koordinasi dengan Bu Frederica Widyasari dari Ketua OJK untuk memastikan bagaimana stabilitas sistem keuangan terjaga,” tandas Perry.
Dummy

Komentar

Dummy

Berita Lainnya

 
Nasional
04/10/2026 15:12 WIB
Azka Corbuzier Debut di Film Action “Home, Almost”, Tayang Perdana di New York
Azka Corbuzier melakoni debut akting melalui film pendek bergenre drama-action “Home, Almost” karya sutradara Tumpal Tampubolon. Film produksi Aftersun Creative bersama Dektos tersebut akan menjalani world premiere sekaligus berkompetisi di Urbanworld Film Festival 2026 di New…
 
Nasional
02/10/2026 17:20 WIB
DENNY JA TERIMA AMA APPRECIATION AWARD 2026, SEBAGAI PEMIMPIN KORPORASI YANG BERDAMPAK
Penghargaan diberikan dalam AMA Indonesia Conference 2026 yang mengangkat tema “From Management to Wealth Creation,” sebuah tema tentang perubahan makna kepemimpinan korporasi.
 
Nasional
02/10/2026 17:02 WIB
CIMB Niaga Gelar Kejar Mimpi FEST 2026: Menginspirasi Generasi Muda untuk Berani Mengeksplorasi Potensi Diri
CIMB Niaga percaya bahwa proses menemukan mimpi sering kali melibatkan perjalanan yang tidak mudah, namun keberanian untuk melangkah adalah kunci utamanya.
 
Nasional
01/10/2026 17:57 WIB
Padukan Mobilitas Premium dan Seni Kontemporer, BMW Indonesia Jadi Luxury Mobility Partner Art Jakarta 2026
Dalam kemitraan tahun ini, BMW dan MINI menyerahkan total 5 unit kendaraan premium untuk mendukung kelancaran mobilitas para tamu penting, kurator, dan pengisi acara Art Jakarta 2026.
 
Nasional
01/10/2026 08:25 WIB
RUPSLB Telkom 2026 Setujui Spin-Off InfraCo dan Perubahan Pengurus, Tunjuk Dirut Baru Perseroan
PT Telkom Indonesia Persero (Tbk) (Telkom) memperoleh persetujuan pemegang saham independen atas aksi korporasi pemisahan aset dan bisnis (spin-off) wholesale fiber connectivity ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia)
 
Nasional
30/09/2026 07:01 WIB
InfraNexia dan CCSI-KD Kembangkan SKKL SUB-2, Dorong Kesiapan Infrastruktur Hadapi Pertumbuhan Trafik Data
Langkah TelkomGroup untuk perkuat infrastruktur jaringan antardaerah sekaligus menopang peningkatan layanan digital di Indonesia
 
Nasional
29/09/2026 15:38 WIB
Kejar Ekonomi 6% di 2027, Pemerintah Gas Investasi, AI hingga Ekspor Bernilai Tambah
Kinerja ekonomi nasional dinilai masih solid. Pada semester I-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45% secara tahunan, sementara inflasi Agustus tercatat 3,19%. Tingkat kemiskinan berada di 8,07%, rasio Gini 0,368, dan pengangguran 4,65%.
Ad Placholder