Endang Muchtar
Rabu, 23 April 2025 - 10:42 WIB

BI rate Masih Akan Ditahan Pada 5,75% Karena Masih Tingginya Tekanan Terhadap Rupiah

analis memantau perkembangan perdagangan nilai tukar disalah satu sekuritas , di Jakarta, belum lama ini. Foto/Endang Muchtar/ECONOMICZONE
analis memantau perkembangan perdagangan nilai tukar disalah satu sekuritas , di Jakarta, belum lama ini. Foto/Endang Muchtar/ECONOMICZONE
Dummy

ECONOMIC ZONE - Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup menguat cukup signifikan sebesar 1,4% menjadi 6.538,3. Beberapa saham pendorong kenaikan IHSG kemarin antara lain BREN (+7.1%), AMMN (+6,8%), dan BBCA (+2,4%). Sementara itu saham ANTM juga masih menunjukkan tren kenaikan harga seiring tren kenaikan harga emas. Kemarin investor asing untuk pertama kalinya mencatatkan net inflow pertama kalinya selama bulan April. Namun demikian kami menilai bahwa hal ini masih belum akan bertahan dalam beberapa waktu ke depan mengingat masih tingginya ketidakpastian global.  

Rupiah kemarin masih kembali mengalami tekanan dan ditutup pada IDR16.855 per USD. Kami melihat bahwa potensi tekanan terhadap Rupiah masih cukup besar meskipun indeks Dollar (DXY) saat ini cenderung mengalami tren pelemahan dan berada di bawah level 99 dalam dua hari terakhir. Menurut kami, masih tingginya risiko volatilitas Rupiah ke depan karena faktor ketidakpastian global akan mendorong BI untuk tetap mempertahankan BI rate pada level 5,75% pada pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur hari ini.

Market Indicator

 JCI: 6,538.27 (1.43%)

 EIDO: 16.36 (2.06%)

 DJIA: 39,186.98 (2.66%)

 FTSE100: 8,328.60 (0.64%)

 USD/IDR: 16,855.00 (0.30%)

 10yr GB yield: 6.99 (2.30bps)

 Oil price: 63.67 (2.02%)

 Foreign net purchase: 122.07bn

Foreign net purchase on single stocks (HOTS screen #0141)

TOP BUY: BBCA, ANTM, BMRI, PANI, BRIS

TOP SELL: BBRI, BBNI, ASII, UNTR, MDKA

Most actively traded stocks (HOTS screen #0102)

ANTM, BBRI, BMRI, BBCA, BBNI

EUR Government Budget to GDP

Act: -3.1% Cons: Prev.: -3.5% 

EUR Government Debt to GDP

Act: 87.4% Cons: Prev.: 87.3%

- DAAZ +24,78%. PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) mencatatkan lonjakan laba bersih sebesar 70,83 persen menjadi Rp608,88 miliar sepanjang 2024. Laba perseroan pada tahun sebelumnya sebesar Rp356,42 miliar.

- CEKA +6,28%. Mencatatkan laba bersih sebesar Rp98.6 miliar pada kuartal I 2025. Perolehan tersebut naik 95.9% secara tahunan.

- KRAS +5,83%. $KRAS mulai produksi massal baja tahan gempa untuk mendukung pembangunan di wilayah rawan bencana.

- DRMA +1,65%. Dharma Polimetal Tbk (DRMA), menyepakati pembagian dividen tunai sebesar Rp202 miliar kepada para pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST).

- LPPF -14,89%, JPFA -9,97%. Penurunan harga saham ini terjadi seiring dengan jadwal pembagian dividen dari masing-masing perseroan.

Technical Insight, April 23, 2025, JPFA, RAJA, GOTO,

- IHSG Daily, 6,538 (+1.43%), test resistance at 6,570, daily trading range 6,462 – 6,570. Critical level di 6,380. IHSG akan menguji resistance terdekat pada downtrend jangka menengah yang relatif kuat (r-squared = 0.8943) sejak 146 hari perdagangan terakhir. Saat ini bergerak dalam rentang +/-1.62 std.deviasi dari center line dan berada sekitar center line. Pergerakan tidak normal saat ini sekitar 10.57% atau sekitar 15 bar chart. Volume transaksi di atas rata-rata. indikator MFI Optimized, indikator RSI Optimized,indikator W%R Optimized dan indikator CMO Optimized secara umum berada diatas batas netral dan di overbought area.

- JPFA Daily, 1,715 (-9.97%), sell on strength, TP 1,787 (+4.20%), daily trading range 1,705 – 1,815. Cut loss level di 1,700. Koreksi harga diperkirakan akan menguji daily strong support pada uptrend jangka panjang yang relatif kuat (r-squared = 0.8766) sejak 250 hari perdagangan terakhir. Saat ini bergerak dalam rentang +/-1.55 std.deviasi dari center line dan berada di atas upper line . Pergerakan tidak normal saat ini sekitar 12.34% atau sekitar 30 bar chart. Volume transaksi diatas rata-rata. Indikator MFI Optimized, indikator RSI Optimized,indikator W%R Optimized dan indikator CMO Optimized secara umum berada di bawah batas netral dan di oversold area.

- RAJA Daily, 1,870 (+3.89%), trading buy, TP 2,080 (+11.23%), daily trading range 1,760 – 1,975. Cut loss level di 1,755. Harga diperkirakan akan coba naik dan tembus upper line pada downtrend jangka pendek yang relatif kuat (r-squared = 0.9069) sejak 55 hari perdagangan terakhir dan bergerak normal dalam rentang +/-2.17 std.deviasi dari centerline.

Harga keluar dari pergerakan normal sekitar 3.47% (sekitar 4 bar chart). Volume transaksi diatas rata-rata. Indikator MFI Optimized, indikator RSI Optimized,indikator W%R Optimized dan indikator CMO Optimized secara umum coba tembus center line

- GOTO Daily, 79 (+0.00%), buy on weakness, TP 91 (+15.19%), daily trading range 74 – 83. Cut loss level di 73. Harga coba naik dan masuk ke dalam uptrend channel jangka menengah yang relatif kuat (r-squared = 0.8063) selama 180 hari perdagangan terakhir dan bergerak normal dalam rentang +/-1.29 std.deviasi dari centerline. Harga keluar dari pergerakan normalnya sekitar 19.37% (sekitar 34 bar chart). Volume transaksi di bawah rata-rata. Indikator MFI Optimized, indikator RSI Optimized,indikator W%R Optimized dan indikator CMO Optimized secara umum berada di bawah batas netral dan di oversold area.

Aspirasi Hidup Indonesia (ACES IJ) - SSSG tracker: Eid high, reality check incoming by Abyan H. Yuntoharjo (abyan.yuntoharjo@miraeasset.co.id)

- Eid-driven lift masks softer core trend: Penjualan Maret melonjak (+37.4% MoM, +15.9% YoY) karena momen Lebaran dan gaji ke-13, membawa penjualan 3M25 ke IDR2.1tr (+8.9% YoY). Namun, lonjakan bersifat musiman dan cenderung naik dan terjadi di awal periode, dengan risiko normalisasi ke depan tanpa katalis baru.

- SSSG tapers, structural headwinds persist: SSSG Maret tercatat +8.6% YoY, membawa YTD 3M25 ke +2.2%, sesuai panduan manajemen >1%. Pertumbuhan ditopang wilayah non-inti, namun faktor musiman dan kehati-hatian konsumen mengindikasikan pelemahan lebih lanjut di 2H25F.

- Muted signal in a softening market: Meski ACES mencatat pertumbuhan pendapatan +10,0% YoY di 1Q25, intensitas promo yang meningkat, SSSG datar, dan lemahnya belanja diskresioner membebani prospek margin jangka pendek. Dengan tekanan makro dan pemulihan trafik yang terbatas, valuasi di 12.5x P/E (-1.0 SD) terlihat cukup wajar—mendukung sikap lebih selektif konsumen. Rekomendasi BUY tetap dipertahankan karena potensi keuntungan diatas 20%. *Mirae Asset Sekuritas Indonesia Market Update

Dummy

Komentar

Dummy

Berita Lainnya

 
Nasional
24/05/2026 11:42 WIB
LIXIL Architectural Design Competition (LADC) 2026
LIXIL, perusahaan global pelopor solusi air dan hunian berkelanjutan, dengan bangga kembali menggelar LIXIL Architectural Design Competition (LADC) 2026
 
Nasional
22/05/2026 23:53 WIB
Wujudkan Semangat Berbagi di Hari Raya Iduladha, TelkomGroup Salurkan 910 Hewan Kurban untuk Masyarakat
Sinergi TelkomGro up hadirkan kebahagiaan Iduladha bagi lebih dari 60 ribu masyarakat di berbagai daerah Indonesia.
 
Nasional
22/05/2026 15:02 WIB
Medco Memprediksi Gas Berpotensi Menggantikan Batu Bara Sebagai Transisi Energi Dunia
Roberto juga memprediksi transisi energi di Indonesia dan sebagian besar di kawasan Asia akan ditopang oleh keberadaan gas.
 
Nasional
22/05/2026 14:55 WIB
Indocement Tebar Dividen Rp 468 per Lembar Saham
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP)
 
Nasional
22/05/2026 14:27 WIB
Kebijakan DHE Siap Berlaku, Presiden Prabowo Pastikan Ekspor Strategis Tetap Jalan
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan pelaksanaan ekspor komoditas strategis seperti crude palm oil (CPO), batu bara, dan ferro alloy melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia.
 
Nasional
22/05/2026 11:23 WIB
Kemenprin Perkuat Produk IKM Siap Kuasai Pasar Modern
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, kerja sama tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat ekosistem industri nasional, khususnya bagi pelaku IKM agar semakin mampu bersaing di pasar domestik maupun global.
 
Nasional
22/05/2026 10:36 WIB
S&P kritisi skema ekspor Danantara, IHSG anjlok, sovereign rating dipertaruhkan
IHSG anjlok 3,54% ke 6.094 dipimpin saham tambang pasca-pengumuman Danantara oleh Prabowo, sementara rupiah tetap melemah ke Rp17.678/USD meski BI menaikkan suku bunga 50bps ke 5,25%.
Telkomsel