ECONOMIC ZONE -Sebagai wujud komitmen nyata terhadap kesehatan, keselamatan, dan kenyamanan lingkungan hidup, salah satu warga di wilayah jakarta utara secara resmi peremajaan infrastruktur.
Pekerjaan ini berfokus pada penggantian seluruh material atap bangunan yang sebelumnya menggunakan asbes menjadi genteng berkualitas tinggi.Langkah strategis ini diambil sebagai respons aktif terhadap imbauan kesehatan global mengenai risiko jangka panjang penggunaan asbes.
Selain demi menjaga kesehatan para penghuni dan pekerja di lingkungan wilayah tersebut, transisi ke media genteng ini juga bertujuan untuk meningkatkan ketahanan bangunan serta menciptakan efisiensi energi yang lebih baik.
Pekerjaan pembongkaran dan pemasangan ulang ini dilakukan secara bertahap mulai dari sekarang Selasa (4/8) hingga diperkirakan selesai pada batas waktu yang belum ditentukan.Proses pelepasan material asbes lama ditangani oleh warga dengan standar keselamatan ketat guna memastikan serat asbes tidak mencemari lingkungan sekitar selama proses pengerjaan.
Mereka menyampaikan permohonan maaf apabila aktivitas renovasi ini sedikit mengganggu kenyamanan atau mobilitas di sekitar area bangunan selama masa konstruksi. Pengalihan arus maupun protokol keselamatan kerja telah disiapkan secara matang demi kelancaran bersama.Melalui peremajaan atap ini berharap dapat menginspirasi lingkungan sekitar untuk mulai beralih ke material bangunan yang lebih ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan manusia.
Beberapa waktu lalu Presiden Prabowo Subianto menyoroti bahaya penggunaan atap berbahan asbes dan seng yang dinilainya dapat berdampak buruk terhadap kesehatan masyarakat, terutama meningkatkan risiko penyakit paru-paru.
Menurutnya paparan serat maupun zat kimia dari material tersebut diduga menjadi salah satu penyebab meningkatnya kasus kanker paru pada usia muda Sementara itu, Kementerian Kesehatan RI menyatakan bahwa asbes telah terbukti dapat memicu berbagai penyakit serius, termasuk kanker paru dan mesothelioma.
Hingga kini, lebih dari 60 negara telah melarang penggunaan asbes, sedangkan Indonesia masih mengizinkan penggunaan jenis chrysotile. Paparan serat asbes umumnya terjadi saat material tersebut dipotong, digergaji, atau bahkan ketika atap yang sudah tua disapu. Serat-serat halus yang tidak terlihat mata dapat beterbangan di udara, kemudian terhirup dan menetap di paru-paru dalam jangka waktu yang sangat lama.
Berdasarkan keterangan World Health Organization (WHO) pada 2024, tidak ada batas aman terhadap paparan asbes. Organisasi tersebut menyebut serat asbes dapat menyebabkan asbestosis atau pengerasan jaringan paru, kanker paru, hingga mesothelioma, yakni kanker langka yang menyerang selaput paru. Bahaya paparan asbes juga sulit dideteksi sejak dini karena gejala penyakitnya baru dapat muncul sekitar 20 hingga 40 tahun setelah seseorang terpapar.
Komentar