Endang Muchtar
Kamis, 06 Agustus 2026 - 14:51 WIB

OJK: Industri Perbankan Syariah 2025 Tumbuh Positif, Aset Tembus Rp1.000 Triliun

Foto/ilustrasi AI/ECONOMICZONE
Foto/ilustrasi AI/ECONOMICZONE
Dummy

ECONOMIC ZONE - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat industri perbankan syariah Indonesia tetap menunjukkan kinerja positif sepanjang 2025 meski menghadapi tantangan ekonomi global dan domestik. Dalam Laporan Perkembangan Keuangan Syariah Indonesia (LPKSI) 2025, total aset perbankan syariah berhasil menembus lebih dari Rp1.000 triliun, didukung pertumbuhan pembiayaan, penghimpunan dana masyarakat, serta kondisi permodalan dan likuiditas yang tetap kuat.

Aset Perbankan Syariah Terus Bertumbuh

OJK menjelaskan bahwa Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) masih menjadi penggerak utama industri dengan kontribusi lebih dari 90 persen terhadap total aset perbankan syariah nasional.

Pertumbuhan aset terjadi secara konsisten dari tahun ke tahun, mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan syariah. Di sisi lain, Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) juga mencatat pertumbuhan meskipun dengan skala yang lebih kecil.

Pembiayaan Tumbuh, Fokus pada Sektor Produktif

Dari sisi intermediasi, pembiayaan perbankan syariah mengalami peningkatan sepanjang 2025. Penyaluran pembiayaan didominasi akad murabahah, musyarakah, dan mudharabah yang masih menjadi instrumen utama pembiayaan syariah.

Pembiayaan terbesar masih mengalir ke sektor perdagangan, industri pengolahan, jasa, serta pembiayaan konsumsi dan UMKM. OJK menilai pertumbuhan tersebut menunjukkan fungsi intermediasi bank syariah tetap berjalan baik di tengah dinamika perekonomian nasional.

Meski pembiayaan meningkat, kualitas pembiayaan tetap terjaga. Rasio pembiayaan bermasalah (NPF) masih berada pada level yang relatif terkendali sehingga risiko industri tetap dapat dikelola.

Dana Pihak Ketiga Terus Naik

Kinerja penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga menunjukkan tren positif. Pertumbuhan giro, tabungan, dan deposito syariah mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan syariah.

Peningkatan dana murah (Current Account Saving Account/CASA) menjadi salah satu faktor yang memperkuat efisiensi industri. Dari sisi sumber dana, deposito masih menjadi kontributor terbesar, diikuti tabungan dan giro.

Profitabilitas dan Likuiditas Tetap Terjaga

Laporan tersebut juga menunjukkan kondisi profitabilitas industri masih cukup baik. Indikator Return on Assets (ROA), Financing to Deposit Ratio (FDR), serta efisiensi operasional (BOPO) menggambarkan kemampuan perbankan syariah dalam menjaga kinerja di tengah tekanan ekonomi.

Likuiditas industri juga berada pada level yang memadai sehingga mampu mendukung penyaluran pembiayaan secara berkelanjutan.

Permodalan Industri Semakin Kuat

Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan syariah tetap berada jauh di atas batas minimum yang ditetapkan regulator.

Kondisi tersebut menunjukkan industri memiliki daya tahan yang kuat terhadap berbagai risiko serta memiliki ruang untuk terus melakukan ekspansi pembiayaan.

Kinerja BPRS Mengalami Perbaikan

Selain BUS dan UUS, BPRS juga mencatat pertumbuhan aset, DPK, dan pembiayaan. Meskipun profitabilitas mengalami tekanan akibat meningkatnya biaya operasional dan kualitas pembiayaan yang perlu terus dijaga, kondisi permodalan BPRS masih berada pada level aman.

OJK menilai penguatan tata kelola dan manajemen risiko menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing BPRS ke depan.

Perbankan Syariah Tetap Kompetitif Dibanding Konvensional

Dalam laporan tersebut, OJK juga membandingkan perkembangan perbankan syariah dengan perbankan konvensional. Pertumbuhan aset, pembiayaan, maupun DPK perbankan syariah dinilai tetap kompetitif sepanjang 2025.

Hal ini menunjukkan industri perbankan syariah mampu mempertahankan momentum pertumbuhan meskipun pangsa pasarnya masih lebih kecil dibandingkan perbankan konvensional.

BUS Menjadi Motor Penggerak Industri

Secara kelembagaan, BUS masih menjadi kontributor terbesar terhadap aset, pembiayaan, dan penghimpunan dana. Pertumbuhan BUS juga didukung oleh kondisi permodalan yang kuat, profitabilitas yang stabil, serta likuiditas yang memadai.

Sementara itu, UUS tetap menunjukkan pertumbuhan positif sebagai bagian dari pengembangan industri perbankan syariah nasional.

OJK Dorong Inovasi Produk Multijasa

Selain memaparkan kinerja industri, OJK juga menyoroti pengembangan produk Pembiayaan Multijasa sebagai upaya memperluas layanan bank syariah.

Produk ini memungkinkan bank syariah membiayai kebutuhan jasa masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, perjalanan ibadah, hingga berbagai layanan lainnya melalui akad syariah, termasuk Ijarah dan Kafalah bil Ujrah. OJK turut menjelaskan alur transaksi, mekanisme pembayaran, serta skema pembiayaan agar penerapannya sesuai prinsip syariah.

Regulasi Baru Perkuat Industri

Sepanjang 2025, OJK juga menerbitkan sejumlah regulasi untuk memperkuat ketahanan industri perbankan syariah, antara lain:

* POJK Nomor 20 Tahun 2025 mengenai kewajiban pemenuhan Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) bagi BUS dan UUS.

* POJK Nomor 21 Tahun 2025 mengenai kewajiban pemenuhan rasio pengungkit (Leverage Ratio) bagi BUS.

* Penguatan tata kelola BPRS melalui penerbitan ketentuan mengenai fungsi kepatuhan, audit internal, serta penerapan tata kelola yang lebih baik.

Regulasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan stabilitas sistem perbankan syariah, memperkuat manajemen risiko, memperbaiki tata kelola, serta meningkatkan daya saing industri di tingkat nasional.

Prospek Tetap Positif

OJK optimistis prospek perbankan syariah masih akan terus membaik seiring meningkatnya literasi dan inklusi keuangan syariah, penguatan regulasi, inovasi produk, serta berkembangnya ekosistem ekonomi syariah nasional.

Dengan kondisi aset yang terus meningkat, pembiayaan yang tumbuh, DPK yang kuat, permodalan yang sehat, dan dukungan kebijakan regulator, industri perbankan syariah diproyeksikan tetap menjadi salah satu motor penggerak sistem keuangan nasional pada tahun-tahun mendatang. (nck)

Dummy

Komentar

Dummy

Berita Lainnya

 
Nasional
20 jam yang lalu
BNI Catat Fundamental Bisnis Kokoh di Bawah Danantara, Ditopang Pertumbuhan Kredit dan Kualitas Aset
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mencatatkan kinerja fundamental yang solid hingga semester I 2026
 
Nasional
22 jam yang lalu
Telkom Rampungkan Spin-Off InfraCo Tahap 2, InfraNexia Jadi Pilar Utama Bisnis Wholesale Connectivity
Pengalihan aset dan bisnis dengan total Rp85,7 triliun memperkuat InfraNexia dalam mengembangkan lebih dari 90% aset jaringan Telkom
 
Nasional
10/08/2026 12:35 WIB
Menhut Bersama Unsur Daerah Tinjau Penanganan Karhutla Bromo Tengger Semeru
Peninjauan dilakukan untuk memastikan upaya pengendalian kebakaran berjalan optimal sekaligus memperkuat sinergi antara Kementerian Kehutanan, TNI, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, serta seluruh unsur terkait dalam menghadapi kebakaran di kawasan konservasi tersebut.
 
Nasional
10/08/2026 12:26 WIB
Manggala Agni dan Tim Gabungan Gerak Cepat Padamkan Karhutla di TN Gunung Rinjan
Kebakaran terjadi pada kawasan konservasi dengan tutupan savana dan semak belukar kering. Respons cepat dilakukan setelah informasi kebakaran diterima dari pengelola kawasan.
 
Nasional
10/08/2026 10:45 WIB
PPATK Temukan Deposit Judi Online Selama Piala Dunia Capai Rp1 Triliun
Pada periode Januari–Juni 2026, nilai perputaran dana judi online mencapai Rp86,82 triliun dalam 467,32 juta transaksi. Sementara itu, nilai deposit tercatat sebesar Rp22,05 triliun dalam 226,76 juta transaksi melalui rekening bank, dompet elektronik, dan QRIS.
 
Nasional
09/08/2026 19:42 WIB
Bank Jakarta–Persija "United for Jakarta": Dari Sponsorship Menuju Strategic Partnership
Bank Jakarta memperkuat kolaborasinya dengan Persija Jakarta sebagai Official Partner dalam mengarungi musim kompetisi 2026–2027
 
Nasional
07/08/2026 23:36 WIB
Telkomsel Dorong Pertumbuhan Ekosistem Kreator AI Indonesia melalui AI Cinefest 2026
Capaian tersebut mencerminkan semakin besarnya minat masyarakat terhadap pemanfaatan AI untuk berkarya sekaligus mengindikasikan tumbuhnya komunitas kreator AI di Indonesia.
Ad Placholder