Fery Pradolo
Sabtu, 07 Maret 2026 - 15:05 WIB

Tarif 0 Persen untuk 1.819 Produk Indonesia ke AS, Peluang Besar atau Tantangan Baru?

Tarif 0 Persen untuk 1.819 Produk Indonesia ke AS, Peluang Besar atau Tantangan Baru?
Tarif 0 Persen untuk 1.819 Produk Indonesia ke AS, Peluang Besar atau Tantangan Baru?
Dummy

ECONOMIC ZONE - Kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat memberikan fasilitas tarif 0 persen bagi 1.819 pos tarif produk Indonesia. Kebijakan ini dinilai membuka peluang ekspor yang lebih besar ke pasar Amerika Serikat. Meski demikian, para pengamat ekonomi mengingatkan bahwa manfaat dari tarif rendah tersebut tetap sangat bergantung pada daya saing industri nasional.

Dalam diskusi kajian dampak ART yang diselenggarakan Prognosa Research & Consulting, ekonom senior INDEF Tauhid Ahmad menegaskan bahwa fasilitas tarif nol persen bukanlah keuntungan eksklusif bagi Indonesia.

“Banyak negara juga mendapatkan fasilitas yang sama, seperti Malaysia dan Vietnam. Artinya, akses pasar memang terbuka, tetapi kita tetap harus bersaing dengan negara lain yang memiliki kapasitas industri kuat,” ujar Tauhid.

Menurutnya, keberhasilan Indonesia dalam memanfaatkan peluang ini sangat bergantung pada kesiapan sektor industri dalam meningkatkan produktivitas, kualitas produk, serta efisiensi biaya produksi.

Di sektor elektronik, misalnya, persaingan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara menjadi tantangan tersendiri. “Produk seperti CPO memang kita produksi, tetapi pasar juga memiliki alternatif dari negara lain yang mendapatkan fasilitas tarif serupa,” tambahnya.

Sektor yang Berpotensi Tumbuh

Direktur Prognosa Research & Consulting, Garda Maharsi, menjelaskan bahwa pemetaan awal terhadap struktur industri Indonesia menunjukkan potensi yang berbeda di tiap sektor.

Beberapa sektor dinilai memiliki peluang cukup besar untuk memanfaatkan momentum ART, seperti industri nikel, energi, dan petrokimia. Selain itu, komoditas kelapa sawit atau CPO juga berpotensi memperluas pasar ekspor jika didukung kebijakan yang tepat.

“Sejumlah sektor memang memiliki peluang yang cukup kuat untuk berkembang. Namun agar potensi tersebut terealisasi, perlu dukungan ekosistem industri yang memadai,” jelas Garda.

Ia menambahkan bahwa sektor unggulan tersebut perlu didukung oleh kebijakan strategis, seperti kemudahan akses pembiayaan, sistem logistik yang efisien, serta penguatan rantai pasok industri. Sementara itu, beberapa sektor lain seperti tekstil, produk logam, dan mineral dinilai masih membutuhkan peningkatan kapasitas agar mampu bersaing lebih optimal di pasar global.

Kapasitas Industri Jadi Faktor Penentu

Direktur Public Affairs Praxis sekaligus Wakil Ketua Umum Public Affairs Forum Indonesia, Sofyan Herbowo, menilai kesiapan kapasitas industri menjadi faktor yang tidak kalah penting dibandingkan kebijakan tarif itu sendiri.

Menurut Sofyan, beberapa komoditas unggulan Indonesia, terutama CPO, masih memiliki posisi yang kuat di pasar global.

“Indonesia masih menjadi salah satu produsen terbesar dunia untuk CPO sehingga memiliki pengaruh dalam pembentukan harga di pasar global,” ujar Sofyan.Namun, untuk sektor industri yang memiliki rantai pasok panjang seperti tekstil, diperlukan waktu serta strategi adaptasi yang matang sebelum peluang ekspor dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Tarif Nol Persen Bukan Jaminan Ekspor Naik

Para pengamat yang terlibat dalam diskusi tersebut sepakat bahwa fasilitas tarif 0 persen dalam kesepakatan ART merupakan peluang penting bagi perdagangan Indonesia. Namun, kebijakan tersebut bukan jaminan otomatis peningkatan ekspor.

Tauhid menegaskan bahwa Indonesia tetap harus memperkuat daya saing industri agar peluang tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan.

“Kita tidak boleh terkecoh dengan angka 1.819 pos tarif. Walaupun tarif ekspor menjadi 0%, belum tentu ekspor kita langsung meningkat jika kapasitas dan daya saing industri belum siap,” tegasnya.

Berdasarkan kajian Tauhid yang menggunakan model analisis ekonomi yang dikembangkan IPB, dalam skenario tarif sebesar 19 persen dengan pengecualian tarif 0 persen untuk sejumlah produk, ekspor Indonesia diperkirakan turun sekitar 1,58 persen. Sebaliknya, impor diproyeksikan meningkat sekitar 1,51 persen.

Dalam kondisi tersebut, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia diperkirakan terkoreksi sekitar 0,41 persen. Sementara itu, Amerika Serikat diproyeksikan mengalami pertumbuhan sebesar 6,54 persen.

Dari sisi neraca perdagangan, Indonesia juga perlu mengantisipasi potensi tekanan defisit sekitar 5,7 miliar dolar AS. Angka ini belum termasuk komitmen pembelian komoditas Amerika Serikat senilai 38,4 miliar dolar AS yang tercantum dalam kesepakatan ART.

 

Dummy

Komentar

Dummy

Berita Lainnya

 
Nasional
24/05/2026 11:42 WIB
LIXIL Architectural Design Competition (LADC) 2026
LIXIL, perusahaan global pelopor solusi air dan hunian berkelanjutan, dengan bangga kembali menggelar LIXIL Architectural Design Competition (LADC) 2026
 
Nasional
22/05/2026 23:53 WIB
Wujudkan Semangat Berbagi di Hari Raya Iduladha, TelkomGroup Salurkan 910 Hewan Kurban untuk Masyarakat
Sinergi TelkomGro up hadirkan kebahagiaan Iduladha bagi lebih dari 60 ribu masyarakat di berbagai daerah Indonesia.
 
Nasional
22/05/2026 15:02 WIB
Medco Memprediksi Gas Berpotensi Menggantikan Batu Bara Sebagai Transisi Energi Dunia
Roberto juga memprediksi transisi energi di Indonesia dan sebagian besar di kawasan Asia akan ditopang oleh keberadaan gas.
 
Nasional
22/05/2026 14:55 WIB
Indocement Tebar Dividen Rp 468 per Lembar Saham
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP)
 
Nasional
22/05/2026 14:27 WIB
Kebijakan DHE Siap Berlaku, Presiden Prabowo Pastikan Ekspor Strategis Tetap Jalan
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan pelaksanaan ekspor komoditas strategis seperti crude palm oil (CPO), batu bara, dan ferro alloy melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia.
 
Nasional
22/05/2026 11:23 WIB
Kemenprin Perkuat Produk IKM Siap Kuasai Pasar Modern
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, kerja sama tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat ekosistem industri nasional, khususnya bagi pelaku IKM agar semakin mampu bersaing di pasar domestik maupun global.
 
Nasional
22/05/2026 10:36 WIB
S&P kritisi skema ekspor Danantara, IHSG anjlok, sovereign rating dipertaruhkan
IHSG anjlok 3,54% ke 6.094 dipimpin saham tambang pasca-pengumuman Danantara oleh Prabowo, sementara rupiah tetap melemah ke Rp17.678/USD meski BI menaikkan suku bunga 50bps ke 5,25%.
Telkomsel