ECONOMIC ZONE - Jakarta - Matahari siang menyinari bibir Pantai Ancol, Jakarta Utara, sementara suara tawa anak-anak bercampur dengan deru ombak menjadi latar kehidupan akhir pekan. Di bawah langit biru, puluhan keluarga bergerak bersama, ada yang berlari mengejar wahana, ada yang duduk bersantai di bawah payung-payung yang disediakan pengelola di sekitar pantai.
Di antara keramaian itu, setiap momen yang terekam bukan sekadar foto atau video, tetapi juga data transaksi digital yang terus mengalir.
Transformasi digital berjalan tanpa banyak disadari di tengah keramaian tempat wisata tersebut. Setiap tiket yang dibeli, setiap es krim yang dibayar, dan setiap suvenir yang dibawa pulang bukan lagi sekadar transaksi biasa, melainkan bagian dari perubahan besar menuju ekosistem ekonomi yang lebih modern.
Bagi jutaan pengunjung setiap tahunnya, Taman Impian Jaya Ancol adalah tempat pelarian dari rutinitas. Namun, bagi para perencana ekonomi digital, Ancol kini juga menjadi laboratorium nyata dalam memahami cara baru masyarakat berinteraksi dengan uang, bukan melalui kertas dan logam, tetapi melalui layar ponsel dengan pembayaran digital Bale by BTN.
Di antara deretan keluarga yang berlibur, terlihat Rita (38) bersama suami dan dua anaknya, serta Wandi (41) bersama keluarganya menikmati liburan akhir pekan di Ancol.
Bagi mereka, sistem transaksi digital yang dibangun BTN telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman berwisata.
Rita (38), warga Bogor mengaku, datang pagi-pagi bersama suami dan dua anaknya. Perjalanan dari Bogor ke Ancol menempuh waktu lebih dari satu jam, tetapi semangat anak-anaknya membuat lelah tak terasa.
Setelah memperoleh tempat di sebuah meja kecil dekat area tenant makanan dekat pantai, tak berapa lama kemudian, Rita merogoh dompetnya. Tapi bukan uang tunai yang diambilnya. Ia membuka aplikasi yang menampilkan pembayaran Bale By BTN di layar ponselnya dan mengarahkan ke pemindai. Dua puluh detik kemudian, pembayaran untuk makan siang keluarga selesai. Terlihat semua tanpa satu lembar uang kertas pun berpindah tangan.
“Saya sengaja tidak bawa uang tunai banyak. Lebih aman dan praktis menggunakan aplikasi Bale. Apalagi kalau ramai begini, lebih tenang,” kata Rita.
Rita mengaku, tidak perlu lagi repot membawa uang tunai untuk membeli tiket masuk, makanan, dan minuman. Cukup dengan aplikasi Bale By BTN, ia dapat bertransaksi cepat dan aman di berbagai titik layanan.
“Sekarang lebih praktis. Saya cukup menggunakan Bale By BTN untuk membeli tiket dan makan. Tidak perlu repot bawa uang tunai banyak,” ujar Rita sambil tersenyum melihat anak-anaknya bermain.
Bagi Rita, kemudahan itu bukan hanya soal efisiensi waktu. Ia merasa lebih aman karena tidak perlu khawatir kehilangan uang tunai saat berada di keramaian. Ia juga mengapresiasi promo dan diskon yang diberikan bagi pengguna produk BTN di kawasan Ancol.
Diskon khusus, harga spesial, hingga keuntungan eksklusif menjadi bagian dari ekosistem loyalitas yang terintegrasi.
Sebagai ibu rumah tangga yang terbiasa mengatur anggaran keluarga, Rita menilai sistem pembayaran non tunai membuat pengeluaran lebih terkontrol. Ia bisa langsung melihat saldo dan riwayat transaksi tanpa harus menyimpan banyak struk kertas.
Bagi Rita, perubahan ini bukan sekadar tren teknologi, melainkan solusi nyata yang memudahkan keluarga kelas menengah dari kota penyangga seperti Bogor menikmati wisata tanpa kerepotan administratif.
“Saya sudah terlalu sering mengalami kerepotan bawa uang tunai saat ke tempat ramai seperti ini. Dengan transaksi Bale by BTN semuanya terasa cepat dan aman,” ujar Rita.
Pengalaman berbeda, namun senada datang dari Wandi (41), seorang karyawan swasta yang tinggal di Bekasi, membawa istri, mertua dan tiga anaknya berlibur ke Ancol. Ia memanfaatkan aplikasi Bale by BTN untuk seluruh transaksi selama di Ancol.
“Semua lewat Bale by BTN. Dari beli tiket masuk sampai makan siang, tinggal scan atau transfer. Lebih cepat dan semua tercatat,” katanya sambil menunjukkan layar ponselnya.
Bagi Wandi, fitur riwayat transaksi dan pencatatan dalam aplikasi menjadi nilai tambah utama dan sangat membantu dalam mengontrol pengeluaran keluarga.
Digitalisasi transaksi tidak hanya mempermudah pembayaran, tetapi juga meningkatkan literasi dan kontrol keuangan keluarga.
“Biasanya kalau liburan suka tidak sadar sudah habis berapa. Sekarang bisa langsung cek. Jadi tetap bisa menikmati waktu sama keluarga tanpa khawatir overbudget,” ujarnya sambil tersenyum.
Ekosistem yang Saling Menguatkan
Bagi Rita dan Wandi, digitalisasi transaksi mungkin hanya berarti kemudahan membayar tiket atau makan siang. Namun dalam skala yang lebih luas, sistem tersebut membentuk budaya baru budaya efisiensi, transparansi, dan inklusi keuangan.
Setiap transaksi yang dilakukan melalui Bale By BTN adalah bagian dari proses membangun fondasi ekonomi digital yang lebih tertib dan modern.
Sebagaimana ditegaskan Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Nixon LP Napitupulu bahwa digitalisasi transaksi di kawasan wisata seperti Ancol adalah bagian dari visi besar perseroan membangun ekosistem kota modern yang terintegrasi dan peradaban finansial yang lebih maju.
“Digitalisasi transaksi di kawasan wisata seperti Ancol adalah bagian dari upaya kami membangun peradaban finansial yang lebih maju. BTN ingin menghadirkan sistem yang seamless, aman, dan inklusif bagi jutaan masyarakat yang beraktivitas di sini,” ujar Nixon.
Menurut Nixon, kawasan wisata dengan volume transaksi tinggi menjadi ruang strategis untuk mendorong percepatan terbentuknya cashless society. Ketika masyarakat terbiasa menggunakan instrumen digital saat rekreasi, kebiasaan tersebut akan terbawa dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.
Dalam konteks pembangunan kota, perubahan perilaku finansial masyarakat merupakan indikator penting kematangan ekosistem ekonomi digital.
“Kami percaya, membangun peradaban modern dimulai dari sistem yang tertib dan transparan. Dari setiap transaksi digital di Ancol, kita sedang membangun fondasi ekonomi yang lebih kuat untuk Jakarta dan Indonesia,” ungkapnya.
Hingga akhir 2025 BTN membukukan jumlah pengguna (user) Bale by BTN yang tumbuh pesat 66,1 persen menjadi 3,7 juta, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya mencapai 2,2 juta pengguna.
Meningkatnya jumlah pengguna turut meningkatkan jumlah transaksi Bale yang melonjak 79,2 persen menjadi 2,2 miliar per 31 Desember 2025 dari tahun sebelumnya sebanyak 1,2 miliar.
Sementara itu, nilai transaksi menembus Rp103,6 triliun, naik 27,7 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp81,1 triliun.
Saldo user Bale by BTN terus meningkat, terlihat dari kontribusinya sebesar Rp22,8 triliun terhadap DPK BTN hingga akhir 2025, naik 15,3 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp19,7 triliun.
“Nominal saldo rata-rata pengguna Bale lebih tinggi. Kami akan terus mendorong positioning Bale sebagai superapp yang menawarkan ekosistem terintegrasi untuk solusi transaksi keuangan keluarga, baik yang terkait dengan kebutuhan perumahan maupun berbagai macam gaya hidup lainnya,” tutur Nixon.
Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Winarto, menyebut kolaborasi dengan BTN ini sebagai langkah strategis untuk menghadirkan pengalaman wisata yang lebih modern dan efisien.
“Kami menyambut baik kerja sama ini sebagai bentuk sinergi antara sektor pariwisata dan perbankan. Kehadiran BTN dengan solusi digitalnya akan memberikan kemudahan bagi pengunjung dan mitra usaha di kawasan Ancol,” ujarnya.
Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menyampaikan transformasi BTN dalam beberapa tahun terakhir, melalui digitalisasi layanan, pengembangan produk transaksional, serta penguatan peran beyond mortgage, menunjukkan kesiapan BTN menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Sebagai mitra dan pemangku kepentingan, lanjut dia, BTN merupakan institusi yang terus bertumbuh, terbuka terhadap kolaborasi, dan konsisten mendukung agenda pembangunan nasional.
"Kami berharap BTN terus menjaga integritas, profesionalisme, serta memperkuat kontribusinya bagi pembangunan nasional," harapnya.
Di tengah geliat transformasi digital nasional, langkah BTN bersinergi dengan Ancol menjadi cerminan bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari proyek raksasa. Ia bisa tumbuh dari sesuatu yang sederhana dari satu transaksi non tunai, dari satu sistem yang terintegrasi, dari satu ekosistem yang dirancang untuk memberi manfaat bersama.
Dan dari gerbang wisata Ancol, peradaban digital itu perlahan dibangun.
Komentar