Roni Mawardi
Kamis, 29 Januari 2026 - 20:39 WIB

Indonesia Butuh Perubahan Struktural Untuk Capai Pertumbuhan Ekonomi 8%

Foto/RoniMawardi/ECONOMICZONE
Foto/RoniMawardi/ECONOMICZONE
Dummy

ECONOMIC ZONE - Jakarta- Ambisi Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke level yang lebih tinggi, termasuk target 8 persen, dinilai sulit tercapai tanpa perubahan struktural yang mendasar. Bonus demografi, stabilitas politik dan kondisi makro ekonomi yang selama ini terjaga memang menjadi fondasi penting, namun belum cukup untuk mendorong akselerasi pertumbuhan secara berkelanjutan.

Pandangan tersebut disampaikan Burhanuddin Abdullah, Board of Advisors Prasasti, dalam pidato pembukaan Prasasti Economic Forum 2026 bertema Navigating Indonesia’s Next Chapter di Jakarta, Kamis (29/1/2026). Forum diskusi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan ini didukung penuh sejumlah korporasi seperti Astra, Toba grup, Triputra, Indofood, Agung Podomoro dan Bank Mandiri..

Sejumlah pembicara dalam event ini adalah Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy, Utusan Khusus Presiden Indonesia Bidang Perdagangan & Kerjasama Multilateral Mari Elka Pangestu, dan CIO Danantara Indonesia Pandu Sjahrir.

Di hadapan ratusan audience, Burhanuddin menjelasakan selama lebih dari satu dekade Indonesia relatif konsisten mencatatkan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5%. Capaian tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi nasional, namun sekaligus mengindikasikan adanya batas struktural yang belum berhasil ditembus.

"Pertanyaannya sederhana: mengapa ekonomi kita seolah tertahan di titik itu? Mengapa tidak bisa keluar dari level itu? Mengapa ketika pemerintah mencanangkan pertumbuhan 8%, banyak pihak yang skeptis dan meragukan?" ujar Burhanuddin.

Ia menjelaskan bahwa ekonomi Indonesia menunjukkan gejala inersia, yakni kecenderungan untuk bertahan dalam kondisi yang sama. Keberhasilan menjaga stabilitas makro dan politik justru membuat perekonomian berada pada posisi seimbang, tetapi dengan tingkat akselerasi dan keberanian mengambil risiko yang rendah.

“Perekonomian kita mencapai keseimbangan, tetapi dengan akselerasi dan keberanian mengambil risiko yang rendah. Kita menjadi sangat pandai bertahan, tetapi kurang terlatih untuk melakukan lompatan,” katanya dengan memberikan penekanan bahwa ketidakberanian mengambil risiko, di berbagai level jabatan dan institusi, dapat menghambat kreativitas dan inovasi.

Burhanuddin menilai struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia masih didominasi oleh akumulasi faktor produksi, seperti penambahan tenaga kerja dan modal, bukan oleh peningkatan produktivitas. Pola ini dinilai mampu menjaga stabilitas, namun tidak cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan.

Selain itu, fragmentasi kelembagaan dan tingginya biaya koordinasi antarinstansi turut memperlambat transmisi kebijakan. Implementasi yang tidak merata dan mahalnya biaya kepatuhan membuat dunia usaha cenderung memilih kesinambungan dibandingkan transformasi, terutama di tengah ketidakpastian global.

“Fragmentasi kelembagaan dan tingginya biaya koordinasi menyebabkan transmisi kebijakan berjalan lambat, implementasi tidak merata, dan biaya kepatuhan bagi dunia usaha menjadi tinggi,” ujar Burhanuddin.

Untuk keluar dari kondisi tersebut, Burhanuddin menegaskan perlunya dorongan kuat berupa reformasi struktural. Ia menekankan pentingnya penegakan hukum sebagai fondasi efisiensi ekonomi, termasuk pemberantasan korupsi dan penindakan terhadap penyalahgunaan izin serta sumber daya.

“Perekonomian kita membutuhkan sebuah ‘gaya luar’ yang cukup kuat agar kita bisa keluar dari pola lama yang menghambat kemampuan ekonomi kita untuk tumbuh lebih cepat,” tegasnya.

Selain penegakan hukum, penguatan institusi pasar dan reorientasi kebijakan ke arah peningkatan produktivitas dinilai menjadi kunci. Upaya tersebut mencakup pendalaman keterampilan tenaga kerja, difusi teknologi, serta peningkatan kapasitas manajerial. Burhanuddin juga menyoroti pentingnya peningkatan kredibilitas kelembagaan sebagai modal utama pertumbuhan.

“Kepercayaan terhadap institusi adalah modal utama untuk mendorong investasi, inovasi, dan keberanian mengambil risiko produktif,” katanya.

Ia menambahkan, berbagai agenda reformasi tersebut sejatinya telah tertuang dalam kerangka kebijakan pemerintah saat ini. Tantangan ke depan adalah memastikan konsistensi, fokus, dan implementasi yang kredibel agar stabilitas ekonomi yang telah dicapai dapat menjadi landasan bagi pertumbuhan yang lebih tinggi, bukan justru menjadi batasnya.

Dummy

Komentar

Dummy

Berita Lainnya

 
Industri
29/01/2026 21:20 WIB
Bank DBS Indonesia Pacu Kredit Digital dengan Tambah Pendanaan Kredivo Jadi Rp3 Triliun
Menanggapi lonjakan pembiayaan BNPL 68,61%, Bank DBS Indonesia resmi tingkatkan fasilitas channeling untuk Kredivo menjadi Rp3 triliun. Analisis kerja sama jangka panjang dan strategi ekspansi ke segmen retail serta kota potensial.
 
Nasional
23/01/2026 20:04 WIB
BTN Gelar Anugerah Jurnalistik dan Foto, Siapkan Hadiah Rp176 Juta
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk kembali menggelar Anugerah Jurnalistik dan Foto BTN 2025 sebagai ajang apresiasi bagi insan media sekaligus menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-76 perseroan yang akan diperingati pada 9 Februari 2026
 
Nasional
22/01/2026 20:38 WIB
WtE Dorong Pengelolaan Sampah Berkelanjutan dan Energi Bersih
Kajian Tenggara Strategics menilai waste-to-energy sebagai solusi awal krisis sampah sekaligus dukung transisi energi.
 
Nasional
21/01/2026 21:05 WIB
Artajasa, Operator QRIS Terbesar di Indonesia, dan Ant International Luncurkan Kemitraan Pembayaran Global dan Keuangan Digital
PT Artajasa Pembayaran Elektronis (“Artajasa”), penyedia infrastruktur sistem pembayaran terkemuka di Indonesia, telah menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan Ant International, penyedia pembayaran digital, digitalisasi, dan teknologi keuangan…
 
Nasional
20/01/2026 17:13 WIB
Indosat Buka Gerai IM3 & 3Store Berkonsep Terpadu di Kawasan Padat Penduduk
Perluas Akses Layanan Resmi Indosat di Area Urban dengan Aktivitas dan Trafik Tinggi
 
Nasional
20/01/2026 08:11 WIB
Pensiun Gak Susah, Ini Strategi DBS Hadapi Lonjakan Penduduk Lansia Indonesia
DBS Indonesia dan DBS Foundation mendorong perencanaan pensiun sejak dini di tengah lonjakan populasi lansia nasional.
 
Nasional
16/01/2026 12:06 WIB
Tommy Suryopratomo Resmi Jadi Pembina Wellington College Jakarta
Wellington College Independent School Jakarta resmi menunjuk Tommy Suryopratomo sebagai Pembina Yayasan jelang operasional sekolah.
Telkomsel