ECONOMIC ZONE - PT Semen Padang memperingati HUT 108 berdirinya sebagai paprik semen tertua di Indonesia bahkan Asia Tenggara, dimana pendiriannya dibidani perwira Belanda berkebangsaan Jerman, Carl Christophus Lau.
Kepala Biro Humas PT Semen Padang, Nur Anita Rahmawati mengatakan perseroan telah melalui pasang surut dari berbagai macam tantangan hingga adanya kompetisi yang ketat dalam industri semen nasional.
"Acara HUT kali ini kita gelar sederhana, namun tidak mengurangi makna sejarah pendirian pabrik yang telah banyak berkontribusi pada modernisasi dan industrialisasi di negeri ini," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (19/3).
Nur Anita menambahkan sejarah panjang telah dilewati PT Semen Padang. Pasang surut kinerja dan peristiwa juga telah dilalui. Perusahaan masih mampu bertahan ditengah sengitnya persaingan industri semen di Indonesia.
"Semen Padang masih mampu bertahan hingga di usianya 108 tahun. Tak banyak perusahaan di negeri ini atau di dunia yang bisa bertahan hingga satu abad lebih. Ini pantas disyukuri," terangnya.
Bagian Penting dari Sejarah
Wartawan senior Khairul Jasmi mencatat, sejarah keberadaan Semen Padang selama satu abad lebih seiring dengan sejarah masyarakat Minangkabau khususnya, bahkan dengan sejarah bangsa Indonesia umumnya.
Pabrik tersebut merupakan bagian penting dari sejarah modernisasi dan industrialisasi di Indonesia, karena inilah pabrik semen dan industri besar pertama yang dibangun di Indonesia dan masih tetap eksis bahkan terus berkembang hingga seratus tahun kemudian.
"Kalau saja tidak ada pabrik semen di Bukit Indarung ini, kita mungkin belum akan melihat Monumen Nasional (Monas), Jembatan Semanggi, Gedung MPR/DPR di Senayan, dan Hotel Indonesia di jantung Jakarta pada awal tahun 1960-an. Mungkin pula belum ada Jembatan Ampera yang melintasi Sungai Musi yang membelah Kota Palembang hingga tahun 1970-an. Juga belum ada pabrik semen di Gresik yang bangunan gedungnya menggunakan semen produksi dalam negeri," ujarnya.
Hari ini mungkin orang hanya akan memandang PT Semen Padang sebagai bagian ‘kecil saja’ dari industri semen nasional, karena produksinya yang sekitar 6,5 juta ton setahun, namun seabad yang lalu, setelah dibangun tahun 1910, pabrik semen di Bukit Indarung tersebut adalah segalanya bagi Indonesia yang masih bernama Hindia Belanda.
Sejak pertama dibangun, pabrik Semen Padang yang sejak awal telah menggunakan kerbau sebagai lambangnya, merupakan pabrik semen pertama di Hindia Belanda bahkan di Asia Tenggara.
Status sebagai pabrik semen satu-satunya di Indonesia itu bertahan selama hampir setengah abad hingga dibangunnya pabrik semen Gresik tahun 1957. Namun, hingga satu dekade setelah pabrik semen Gresik berdiri, produksi Semen Padang masih menjadi andalan bagi pembangunan berbagai proyek penting, strategis, bahkan menjadi landmark bagi kota-kota yang menjadi lokasi bangunan tersebut. Termasuk dalam hal ini Monumen Nasional, Gedung MPR/DPR, Jembatan Semanggi, dan Hotel Indonesia di Jakarta, dan Jembatan Ampera di Palembang. Bahkan gedung-gedung pabrik dan perkantoran milik Semen Gresik pun dibangun dengan semen yang diproduksi di Indarung.(LS)
Komentar