ECONOMIC ZONE - JAKARTA, PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO), anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI yang bergerak di bidang perbankan mikro akan menggelar penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Aksi korporasi tersebut akan digelar pada bulan November tahun ini.
AGRO akan mengeluarkan 3,5 miliar lembar saham baru atau setara dengan 15,39% dari jumlah saham yang di tempatkan.Menariknya Bank BRI akan melaksanakan haknya dan PT BRI Danareksa akan bertindak sebagai pembeli siaga apabila pemegang saham publik tidak melaksanakan haknya.
Adapun, dana segar dari rights issue ini akan digunakan sebagai permodalan untuk melakukan ekspansi. Yang jelas AGRO telah memiliki modal inti per Juni 2022 sebesar Rp 2,11 triliun melebihi batas aturan OJK NI. 12/POJK.03/2020 tentang modal inti minimum sebesar Rp 1 triliun.
Terkait rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD), emiten bank bersandi AGRO ini telah memiliki sejumlah strategi untuk menarik investor agar dapat mengambil saham baru yang diedarkan perseroan.
Direktur Keuangan Bank Raya Akhmad Fazri sempat mengatakan bahwa sebagai upaya mengoptimalkan penerbitan saham baru, diperlukan adanya penciptaan nilai untuk pemangku kepentingan dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap saham AGRO.
Oleh sebab itu, Bank Raya akan mewujudkan aspirasi perseroan sebagai bank digital terbaik dengan menjadi rumah bagi perusahaan finansial teknologi atau fintech, serta gig economy.
Sebagai konteks, gig economy merupakan sebuah sistem ekonomi di mana perusahaan hanya mengontrak pekerja dalam jangka pendek atau jangka waktu tertentu. Dalam sistem ini seseorang dibayar per proyek yang dikerjasamakan sesuai kontrak.
“Bank Raya akan mengoptimalkan pengembangan digital saving dan digital lending yang disesuaikan dengan kebutuhan gig economy,” kata Akhmad .
Dengan fokus menggarap sektor gig economy, Bank Raya sejauh ini telah menyalurkan kredit sebesar Rp1,5 triliun ke segmen ini. Pencairan kredit diklaim dapat ditempuh dalam waktu di bawah 10 menit, bertenor 7 hari, dan ticket size maksimum mencapai Rp25 juta.
Direktur Utama Bank Raya Kaspar Situmorang, dalam laporan Public Expose Live 2022, mengatakan pihaknya terus berkonsentrasi pada pekerja informal karena sejauh ini bank umum telah memberikan pelayanan maksimal kepada pekerja formal.
Berdasarkan riset yang dilakukan perseroan, kata Kaspar, jumlah pekerja informal di Indonesia mencapai 77,9 juta pekerja atau 59,5 persen dari total pekerja. Sementara itu, porsi pekerja informal di setiap provinsi rata-rata mencapai sekitar 50 persen - 56 persen.
“Namun, kami melihat terdapat masalah pada para pekerja informal, yakni ketiadaan agunan, sehingga dalam penyaluran unsecured loan kami berkolaborasi dengan big data dan platform based,” ujar Kaspar dikutip dari keterbukaan informasi.
Untuk itu, lanjutnya, Bank Raya hadir dengan mengamplifikasi proses pengajuan pinjaman, simpanan dan lain sebagainya. Solusi yang juga berdasarkan kerangka kerja, sehingga dengan membantu pekerja informal, Bank Raya dapat berakselerasi secara cepat dan berkelanjutan.
Komentar