ECONOMIC ZONE - Bagi masyarakat Jakarta, saat ini kawasan Glodok dikenal sebagai sentra elektronik dan area cagar -budaya masyarakat Tionghoa. Terdapat pusat perbelanjaan megah yang menjual aneka elektronik hingga banyak ruko yang tutup dan hampir tidak ada pembeli yang datang.
Para pedagang mengeluhkan pembeli yang semakin hilang membuat omzet penjualan turun drastis dan tidak sebesar seperti dahulu saat masih ramai, meski mereka kini mengandalkan pelanggan langganannya.
Sejarah Glodok sempat bersinar di era Belanda. Berdasarkan buku Betawi Queen of the East, Alwi Shahab (2002:70-75), pada tahun 1741, Belanda membuat pemukiman khusus untuk masyarakat Tionghoa.
Namun, sejarah pecinan Glodok di Jakarta ternyata tidak seindah yang dibayangkan. Ada kisah kelam mengenai suku Tionghoa di Batavia, yang melatarbelakangi didirikannya Glodok.
Seiring perkembangan zaman, pusat perdagangan elektronik saat ini masih beroperasi. Glodok juga dikenal sebagai tempat wisata pecinan Jakarta paling tua hingga menjadi tempat berburu kuliner makanan-makanan Tionghoa-Indonesia.
Sayang, beberapa pemilik toko elektronik enggan dimintai tanggapan mengenai aktivitasnya. Petugas lainnya yang berjaga menjelaskan bahwa memang ada kebijakan yang berbeda antara pengelola gedung dan barisan ruko di bawahnya. Kalaupun ditemukan adanya pelanggaran pada toko di barisan ruko, maka itu di luar tanggung jawab pengelola gedung.
"Dulu pas di sini masih jaya-jayanya, ada kali dapat hingga Rp20 juta, sekarang mau Rp3 juta saja susah, kadang Rp1 juta saja juga susah," terangnya, salah satu pedagag yang tidak mau disebut identitasnya.
Di tokonya, harga CCTV dibanderol mulai dari Rp150.000 hingga Rp1 juta. Harga tersebut belum termasuk ongkos pemasangan dan lain-lain. Bahkan, harga-harga CCTV di tokonya sudah mengalami kenaikan sekitar Rp50.000, efek dari kenaikan harga komponen yang masih impor dan pelemahan rupiah.
"Iya, memang naik harganya, ya sekitar Rp50.000, tergantung jenis CCTV-nya, karena kan komponennya masih impor dan ditambah rupiah melemah terus," ungkapnya
Pertumbuhan pesat pangsa pasar e-commerce di Indonesia memang sudah tidak bisa diragukan lagi. Mengutip MARS sebagai salah satu institut riset Indonesia, dengan jumlah pengguna internet yang mencapai angka 90,5 juta jiwa atau sekitar 35,4% dari total penduduk di Indonesia, pasar e-commerce menjadi tambang emas yang sangat menggoda bagi sebagian orang yang bisa melihat potensi ke depannya.
Dampak dari situasi tersebut salah satunya bisa dilihat dari kondisi Pasar Glodok yang dulu terkenal sebagai pusat elektronik di Jakarta saat ini cukup memperihatinkan. Lantaran semakin hari semakin sepi ditinggal pembeli, banyak pemilik toko yang kemudian memilih menutup kiosnya.
Sementara kios-kios kecil yang biasa menempati selasar blok pasar, malah sebagian besar sudah ditempeli stiker agen properti dengan label 'dijual'.
Komentar