ECONOMIC ZONE - Perekonomian Indonesia menunjukkan tren positif di tengah ketidakpastian ekonomi global. Hal ini tercermin dari tiga indikator utama yang dirilis pada 2 November 2026, yakni inflasi yang tetap terkendali, neraca perdagangan yang kembali mencatatkan surplus, serta aktivitas manufaktur yang semakin ekspansif.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, inflasi Indonesia pada Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23% secara tahunan (year-on-year/yoy), masih berada dalam rentang sasaran nasional sebesar 2,5±1%. Sementara itu, inflasi inti melandai menjadi 2,56% (yoy).
Di sektor perdagangan, Indonesia kembali membukukan surplus sebesar USD3,36 miliar pada September 2026. Capaian tersebut memperpanjang tren surplus neraca perdagangan selama tiga bulan berturut-turut. Nilai ekspor tercatat mencapai USD27,59 miliar, sedangkan impor sebesar USD24,23 miliar.
Kinerja positif juga terlihat pada sektor manufaktur. Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia meningkat menjadi 54,0 pada Oktober 2026, naik dari 52,4 pada bulan sebelumnya. Angka tersebut menjadi ekspansi terkuat sejak Maret 2024, didorong peningkatan permintaan domestik maupun ekspor.
“Pemerintah terus menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Terjaganya inflasi, kembali ekspansifnya sektor manufaktur, dan tetap tumbuhnya ekspor menunjukkan bahwa fondasi perekonomian Indonesia tetap kuat di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian,” ujar Airlangga dalam keterangan resminya, Senin (2/11/2026).
Untuk mempertahankan momentum tersebut, pemerintah akan memperkuat investasi, hilirisasi, produktivitas industri, serta memperluas akses pasar ekspor. Berbagai instrumen pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kredit Industri Padat Karya (KIPK), dan Kredit Alsintan juga terus didorong guna meningkatkan kapasitas sektor produktif.
Di sisi lain, pemerintah memperkuat langkah pengendalian inflasi dan stabilitas pasokan pangan, terutama menghadapi potensi peningkatan permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru serta risiko dampak El Niño.
Airlangga menegaskan, pertumbuhan ekonomi harus ditopang tidak hanya oleh peningkatan permintaan, tetapi juga penguatan kapasitas produksi dan daya saing nasional.
“Kita ingin pertumbuhan ekonomi tidak hanya ditopang oleh peningkatan permintaan, tetapi juga oleh penguatan kapasitas produksi dan daya saing ekonomi nasional,” pungkasnya. (nck)
Komentar