Roni Mawardi
Senin, 10 Agustus 2026 - 20:00 WIB

BNI Catat Fundamental Bisnis Kokoh di Bawah Danantara, Ditopang Pertumbuhan Kredit dan Kualitas Aset

Foto/Dok-BNI/ECONOMICZONE
Foto/Dok-BNI/ECONOMICZONE
Dummy

ECONOMIC ZONE - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mencatatkan kinerja fundamental yang solid hingga semester I 2026, di tengah tantangan likuiditas industri perbankan dan geopolitik serta ekonomi global yang dinamis 

Pertumbuhan kredit yang sehat dan terdiversifikasi dengan baik, struktur pendanaan yang kuat, kualitas aset yang terjaga, serta transformasi bisnis yang berkelanjutan menjadi fondasi BNI dalam menciptakan pertumbuhan yang berkualitas dan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, perseroan terus memperkuat fundamental bisnis melalui strategi pertumbuhan yang berorientasi pada kualitas, penguatan bisnis inti, serta transformasi organisasi dan digital secara berkelanjutan.

"Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen," ujar Putrama.

Menurut Putrama, arah pengembangan bisnis tersebut sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia yang menitikberatkan pada penguatan fundamental perusahaan, penerapan tata kelola yang profesional, serta penciptaan nilai secara berkelanjutan.

Transformasi Digital dan Implementasi BRAVE Perkuat Produktivitas Bisnis

Transformasi digital dan penguatan jaringan menjadi salah satu penggerak utama peningkatan produktivitas dan pertumbuhan bisnis BNI. Hingga akhir Juni 2026, jumlah pengguna wondr by BNI mencapai 15,1 juta, dengan volume transaksi tumbuh 110% secara tahunan. Sementara pada segmen wholesale, jumlah pengguna BNIdirect mencapai 280 ribu, dengan volume transaksi tumbuh 17% secara tahunan menjadi Rp6.039 triliun. Pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin luasnya pemanfaatan kanal digital BNI oleh nasabah ritel maupun korporasi. 

Dari sisi jaringan, implementasi BRAVE atau Branch, Region & Area Value Empowerment kini telah diterapkan di seluruh wilayah operasional BNI. Program tersebut memperkuat fungsi kantor cabang sebagai pusat penjualan, meningkatkan produktivitas jaringan, serta mengoptimalkan potensi bisnis di setiap daerah.

Putrama menuturkan, transformasi digital dan implementasi BRAVE merupakan bagian dari strategi jangka panjang BNI untuk membangun organisasi yang semakin lincah, memperkuat kapabilitas bisnis, serta menghadirkan layanan yang relevan dengan kebutuhan nasabah.

"Melalui BRAVE, setiap wilayah dan kantor cabang memiliki peran yang semakin kuat dalam menggali potensi ekonomi lokal serta membangun ekosistem bisnis. Integrasi antara kapabilitas jaringan dan solusi digital diharapkan dapat mempercepat akuisisi, memperluas transaksi, dan meningkatkan kualitas hubungan dengan nasabah," ujar Putrama.

Dengan penguatan strategi bisnis, transformasi organisasi, dan digitalisasi yang dijalankan secara konsisten, BNI optimistis dapat terus meningkatkan daya saing sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi para pemangku kepentingan.

Kredit Tumbuh Berkualitas dan Seimbang, Ditopang Pendanaan yang Kuat

Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan, hingga akhir Juni 2026, kredit BNI tumbuh 24,4% secara tahunan menjadi Rp968,5 triliun.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh portofolio kredit yang semakin terdiversifikasi pada berbagai sektor ekonomi dan segmen bisnis utama, mulai dari korporasi, menengah, UMKM hingga konsumer.

Ekspansi kredit dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan prospek industri serta profil risiko masing-masing debitur guna menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas portofolio.

Strategi intermediasi tersebut berjalan seiring dengan penguatan struktur pendanaan. Di tengah persaingan likuiditas yang masih ketat, CASA BNI tumbuh 11,2% secara tahunan sehingga mampu mempertahankan rasio CASA pada level 65,4%. Pencapaian ini mendukung efisiensi biaya dana. Cost of fund dana pihak ketiga membaik menjadi 2,56%, dibandingkan dengan 2,78% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Struktur pendanaan yang kuat menjadi modal penting bagi BNI untuk menjaga daya saing sekaligus mendukung pertumbuhan kredit secara berkelanjutan.

Penguatan fundamental bisnis BNI juga tercermin pada peningkatan pendapatan inti Perseroan. Hingga semester I 2026, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) tumbuh 14,2% secara tahunan menjadi Rp22,3 triliun.

Pada periode yang sama, pendapatan berbasis komisi atau fee-based income (FBI) meningkat 14,2% menjadi Rp9 triliun.

Pertumbuhan yang solid dan seimbang dari kedua sumber pendapatan tersebut mendorong laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) mencapai Rp18,5 triliun, tertinggi sepanjang sejarah BNI untuk periode semester pertama. Sementara itu, laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp10,8 triliun.

Paolo mengatakan, penguatan profitabilitas menunjukkan kontribusi bisnis inti BNI yang semakin solid dan berimbang.

"Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya. Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi," ujar Paolo.

Kualitas Aset Terjaga Didukung Manajemen Risiko yang Prudent

Sejalan dengan pertumbuhan bisnis, kualitas aset BNI terus menunjukkan ketahanan yang baik. Hingga akhir Juni 2026, rasio kredit bermasalah atau loan at risk (LAR) membaik dari 11,0% menjadi 8,1%, sementara rasio non performing loan (NPL) berada pada level 1,9%.

Perseroan juga mempertahankan kebijakan pencadangan yang konservatif sebagai bagian dari disiplin manajemen risiko. Kebijakan tersebut memperkuat ketahanan neraca sekaligus memberikan ruang bagi BNI untuk melanjutkan ekspansi bisnis secara sehat dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Direktur Risk Management BNI David Pirzada mengatakan, kualitas aset yang terjaga merupakan hasil penerapan manajemen risiko secara disiplin dan konsisten pada seluruh tahapan proses bisnis perseroan.

"Pengelolaan risiko dilakukan sejak tahap penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit. BNI juga terus memperkuat sistem peringatan dini agar setiap perubahan profil risiko dapat diidentifikasi dan ditangani secara lebih cepat," ujar David.

Dengan kualitas aset yang sehat dan pencadangan yang memadai, BNI memiliki fondasi kuat untuk menjaga stabilitas bisnis di tengah dinamika perekonomian sekaligus mendukung ekspansi secara berkelanjutan.

Memasuki paruh kedua 2026, BNI akan memperkuat struktur pendanaan, menjaga pertumbuhan kredit yang berkualitas dan terdiversifikasi, serta mempertahankan kualitas aset melalui pengelolaan risiko dan pencadangan yang disiplin.

BNI juga akan melanjutkan transformasi BRAVE dan digital guna meningkatkan produktivitas, memperkuat fundamental bisnis, serta menciptakan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan, sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia. (*)

Dummy

Komentar

Dummy

Berita Lainnya

 
Nasional
20 jam yang lalu
Temui Gubernur Banten, Telkom Akses Dorong Penguatan dan Penataan Infrastruktur Digital
Dorong kolaborasi pemerintah dan industri untuk mendukung pengembangan konektivitas dan jaringan telekomunikasi di Banten
 
Nasional
22 jam yang lalu
Ponsel Pintar Kamera Infinix NOTE 60 Pro: Sikapi Minimnya Rambu dan Pencahayaan di Perlintasan Kereta Stasiun Rawa Buntu
Menggunakan keunggulan kamera low-light 50MP OIS Night Master milik Infinix NOTE 60 Pro, dokumentasi tersebut memperlihatkan dengan jelas potret nyata perlintasan sebidang yang masih minim alat pemberi isyarat cahaya, rambu lalu lintas, maupun palang pintu pembatas.
 
Nasional
23 jam yang lalu
Pasokan Uang di Masyarakat Tumbuh Positif pada Agustus 2026
Perkembangan M2 pada Agustus 2026 terutama dipengaruhi oleh penyaluran kredit. Penyaluran kredit tumbuh sebesar 13,3% (yoy) pada Agustus 2026, meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan pada Juli 2026 sebesar 13,0% (yoy).
 
Nasional
24 jam yang lalu
Generali Indonesia Tembus 9 Juta Kg Carbon Offset Lewat Program PLAN & PLANT
Sejak diluncurkan tahun 2023 hingga kuartal II – 2026, Generali Indonesia telah menanamkan lebih dari 20.000 pohon mangrove, dan berpotensi menyerap lebih dari 9 juta kilogram emisi karbon (carbon-offset) dalam 25 tahun mendatang, sebagai bagian dari upaya mengurangi dampak emisi…
 
Nasional
24/09/2026 13:08 WIB
Masuknya HSBC Dorong APEX Terbitkan 218 Juta Saham Baru
Secara keseluruhan, pemegang saham lama akan mengalami dilusi sebesar 5,79%. Dua kreditur sindikasi luar negeri tersebut akan menjadi pemegang saham baru dengan kepemilikan gabungan 5,79% setelah PMTHMETD.
 
Nasional
23/09/2026 20:41 WIB
Tingkatkan Kreativitas Digital Guru di Ruang Kelas, Telkomsel Bikin Ribuan Tenaga Pendidik Makin Canggih Mengajar dengan AI
Kurikulum Terpujilah GURU dirancang agar keterampilan yang dipelajari dapat langsung digunakan.
 
Nasional
23/09/2026 17:50 WIB
Beli Tiket MotoGP Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 via wondr by BNI, Diskon hingga Rp300 Ribu
BNI menghadirkan penawaran khusus bagi nasabah yang ingin menyaksikan MotoGP Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit, NTB pada 9-11 Oktober 2026
Ad Placholder