Endang Muchtar
Minggu, 14 Juni 2026 - 16:41 WIB

Denny JA Nyatakan Lahirnya Kelas Baru Pekerja Digital yang Rentan

Foto/dok.Denny JA/ECONOMICZONE
Foto/dok.Denny JA/ECONOMICZONE
Dummy

ECONOMIC ZONE - Pendiri LSI Denny JA, menyatakan bahwa Indonesia sedang menyaksikan lahirnya cikal bakal kelas sosial baru yang muncul dari revolusi digital. Kelas baru itu ia sebut Digitally Vulnerable Class (DVC) atau Pekerja Digital yang Rentan.

Gagasan tersebut disampaikan dalam esainya berjudul Datangnya Kapitalisme Algoritma dan Cikal Bakal Lahirnya Kelas Baru: Pekerja Digital yang Rentan (DVC) yang dipublikasikan melalui Facebook Denny JA’s World.

Menurut Denny JA, dunia kini memasuki tahap baru perkembangan kapitalisme yang berbeda dari kapitalisme industri abad ke-19 maupun kapitalisme finansial abad ke-20. Ia menyebut tahap baru ini sebagai kapitalisme algoritma.

“Jika kapitalisme industri bertumpu pada mesin dan kapitalisme finansial bertumpu pada modal, maka kapitalisme algoritma bertumpu pada data dan algoritma,” ujar Denny JA.

Dalam sistem baru ini, algoritma tidak hanya membantu proses produksi, tetapi juga menentukan akses seseorang terhadap pekerjaan, penghasilan, reputasi, dan peluang ekonomi.

Jutaan pengemudi online, kurir digital, freelancer, kreator konten, hingga penjual daring kini bekerja melalui platform yang aturan mainnya dapat berubah sewaktu-waktu melalui pembaruan sistem.

Menurut berbagai estimasi, pekerja platform digital di Indonesia telah mencapai sekitar 4 juta orang, sementara pekerja ekonomi digital secara lebih luas telah berkembang menjadi puluhan juta orang.

Menurut Denny JA, perubahan ini melahirkan bentuk kerentanan yang belum pernah dikenal sebelumnya.

Seorang pengemudi ojek online kehilangan penghasilannya hanya karena satu notifikasi aplikasi. Ia tidak dipecat manusia. Ia dihentikan oleh algoritma.

Ia menjelaskan bahwa DVC berbeda dari proletariat yang diperkenalkan Karl Marx maupun precariat yang diperkenalkan Guy Standing.

Proletariat bergantung pada pemilik pabrik. Precariat bergantung pada pasar kerja yang tidak stabil. Sedangkan DVC bergantung pada algoritma dan platform digital.

“Jika pasar menentukan nasib precariat, maka algoritma menentukan nasib DVC,” kata Denny JA.

Ia mengidentifikasi tiga ciri utama yang membuat DVC berbeda dari kelas sosial sebelumnya.

Pertama, kerentanan algoritmik. Pendapatan, visibilitas, reputasi, bahkan keberlangsungan pekerjaan dapat berubah akibat keputusan sistem digital yang tidak transparan.

Kedua, identitas kolektif digital. Walau bekerja di lokasi berbeda dan tidak pernah bertemu, mereka terhubung melalui aplikasi, media sosial, dan komunitas daring yang membentuk solidaritas baru.

Ketiga, kerawanan harapan. Banyak pekerja digital hidup dengan harapan bahwa satu unggahan akan viral, satu rating akan meningkat, atau satu perubahan algoritma akan memperbaiki kehidupan mereka. Harapan menjadi sumber energi sekaligus sumber kerentanan psikologis.

Menurut Denny JA, DVC belum dapat dinyatakan sebagai kelas sosial baru yang mapan, namun bukti-bukti menunjukkan bahwa ia telah menjadi cikal bakal paling kuat lahirnya kelas sosial baru di era digital.

“Abad ke-19 melahirkan proletariat. Abad ke-20 melahirkan precariat. Abad ke-21 mungkin akan dikenang sebagai abad yang melahirkan manusia yang hidup di bawah bayang-bayang algoritma,” ujar Denny JA.

Di titik inilah, negara dan platform tak bisa lagi berlindung di balik istilah inovasi. Mereka wajib mengakui DVC sebagai kelas baru, dan merancang perlindungan sosial yang sepadan dengan risiko algoritmik.

Sebagai perbandingan, Uni Eropa telah menetapkan Platform Work Directive guna menjamin hak pekerja digital. Indonesia mendesak regulasi serupa agar fleksibilitas ekonomi platform tidak mengorbankan jaminan kesejahteraan jutaan pekerja DVC.

Ia menutup esainya dengan peringatan bahwa pertarungan terbesar abad ke-21 bukan lagi semata antara buruh dan pemilik modal, melainkan antara manusia dan sistem teknologi yang diciptakannya sendiri.

Sumber: Esai Datangnya Kapitalisme Algoritma dan Cikal Bakal Lahirnya Kelas Baru: Pekerja Digital yang Rentan (DVC) oleh Denny JA, dipublikasikan di Facebook Denny JA’s World.

Dummy

Komentar

Dummy

Berita Lainnya

 
Nasional
01/10/2026 08:25 WIB
RUPSLB Telkom 2026 Setujui Spin-Off InfraCo dan Perubahan Pengurus, Tunjuk Dirut Baru Perseroan
PT Telkom Indonesia Persero (Tbk) (Telkom) memperoleh persetujuan pemegang saham independen atas aksi korporasi pemisahan aset dan bisnis (spin-off) wholesale fiber connectivity ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia)
 
Nasional
30/09/2026 07:01 WIB
InfraNexia dan CCSI-KD Kembangkan SKKL SUB-2, Dorong Kesiapan Infrastruktur Hadapi Pertumbuhan Trafik Data
Langkah TelkomGroup untuk perkuat infrastruktur jaringan antardaerah sekaligus menopang peningkatan layanan digital di Indonesia
 
Nasional
29/09/2026 15:38 WIB
Kejar Ekonomi 6% di 2027, Pemerintah Gas Investasi, AI hingga Ekspor Bernilai Tambah
Kinerja ekonomi nasional dinilai masih solid. Pada semester I-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45% secara tahunan, sementara inflasi Agustus tercatat 3,19%. Tingkat kemiskinan berada di 8,07%, rasio Gini 0,368, dan pengangguran 4,65%.
 
Nasional
28/09/2026 15:52 WIB
GoZero% Goes to Klangon, Telkom Bangun Ekosistem Keberlanjutan Berbasis Konservasi dan Pemberdayaan Masyarakat
Hadirkan rangkaian aksi lingkungan dan fasilitas pendukung untuk membangun praktik keberlanjutan di tingkat masyarakat
 
Nasional
25/09/2026 19:08 WIB
Dana Pensiun RI Tembus Rp1.699 T, OJK Soroti Rendahnya Literasi
OJK mencatat replacement ratio atau rasio manfaat pensiun terhadap penghasilan sebelum pensiun di Indonesia masih berada di kisaran 15-20%. Angka tersebut masih di bawah standar 40%.
 
Nasional
25/09/2026 18:48 WIB
Menkomdigi Kunjungi Kantor Telin di Los Angeles, Dorong Ekosistem Digital Indonesia Go Global
Pemerintah dukung transformasi Telin dalam memperkuat kehadiran digital Indonesia di pasar internasional
 
Nasional
25/09/2026 16:45 WIB
Hadir di FEKDI x IFSE 2026, Telkom Solution Dukung Ekosistem Ekonomi dan Keuangan Digital Indonesia
Hadirkan solusi digital terintegrasi untuk memperkuat konektivitas, efisiensi, keamanan, dan inklusivitas layanan keuangan
Ad Placholder