ECONOMIC ZONE - JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup menguat ke level Rp15.192 pada penutupan perdagangan Kamis (23/2/2023). Bersama dengan rupiah, beberapa mata uang kawasan Asia yang menguat terhadap dolar AS adalah won Korea Selatan naik 0,63 persen, dolar Taiwan naik 0,54 persen, peso Filipina naik 0,51, ringgit Malaysia naik 0,27 persen, rupee India naik 0,11 persen, baht Thailand naik 0,11 persen, dan dolar Hong Kong naik 0,04 persen,
Sementara itu, mata uang Asia yang melemah terhadap dolar AS adalah dolar Singapura turun 0,06 persen dan yen Jepang turun 0,04 persen.
Dari dalam negeri, pasar merespon positif surplus Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mencapai Rp90,8 triliun atau setara dengan 0,43 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada Januari 2023.
Surplus APBN berasal dari tingginya realisasi pendapatan negara yakni Rp232,2 triliun atau tumbuh 48,1 persen dari periode yang sama tahun lalu. Surplus ini juga mengindikasikan kondisi ekonomi makro yang masih tergolong kuat di tengah tingginya tren inflasi dan ancaman resesi.
Relaksasi pembatasan aktivitas masyarakat seiring menurunnya Covid-19 menjadi pendorong adanya surplus APBN. Selain itu, dengan kondisi makro tergolong kuat maka PDB akan bertahan di 5 persen pada 2023 atau lebih rendah dari 5,4 persen pada 2022.
Perekonomian indonesia meningkat menjadi 5,7 persen secara tahunan pada kuartal III/2022. Angka ini lebih tinggi dibanding 5,4 persen pada semester II/2022.
Pertumbuhan perekonomian telah membantu dampak penurunan pendapatan riil dari kenaikan harga BBM subsidi. Pemerintah juga memperluas subsidi angkutan umum daerah demi meredam dampak kenaikan BBM terhadap daya beli.
Sementara pola konsumsi Indonesia diperkirakan melambat pada 2023 dan 2024. Hal ini karena meningkatnya angka inflasi yang tercermin dari pola inflasi pada 2013-2015.
Komentar