ECONOMIC ZONE - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) konsisten menjalankan beberapa proyek pengembangan jangka panjang sebagai wujud keberlanjutan perusahaan. Proyek tersebut di antaranya proyek coal bed methane yang berlokasi di Tanjung Enim dengan nilai investasi mencapai US$14,46 juta dan beroperasi komersial pada 2022. Di lokasi yang sama, perusahaan juga menggarap proyek gasifikasi batu bara yang terdapat di Tanjung Enim ini diperkirakan berkapasitas 2.600 ton per hari dan membutuhkan investasi sebesar US$1,6 miliar.
Selanjutnya, PTBA tengah mengejar peningkatan jalur kereta api di Tanjung Enim-Kertapati dan Tanjung Enim-Tarahan yang diproyeksikan dapat mengangkut masing-masing 5 juta ton (2019) dan 25 juta ton (2020). Ada juga proyek pengembangan baru jalur kereta api di Tanjung Enim-Prajun dengan kapasitas angkut 10 juta ton (2022), Tanjung Enim-Srengsem 20 juta ton (2022), serta Tanjung Enim-Lampung 7,5 juta ton (2022).
Di bidang kelistrikan, PTBA membangun pembangkit listrik di Bangko Tengah berkapasitas 2x620 megawatt. Nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai US$1,6 miliar dan beroperasi komersial sekitar 2021. Proyek pembangkit listrik lainnya adalah PLTU Pranap berkapasitas 2x300 MW (investasi US$1,2 miliar), PLTU Sumsel 6 dengan kapasitas 2x300 MW (US$900 juta), PLTU Kuala Tanjung 2x350 MW (US$780 juta), serta PLTU Halmahera 2x40 MW (US$150 juta).
Direktur Utama Arviyan Arifin mengatakan, pihaknya memproyeksikan volume penjualan selama 2017 mencapai 23,62 juta ton atau lebih tinggi 13,83%, dari capaian tahun sebelumnya 20,75 juta ton. Sementara itu, produksi batu bara diperkirakan sebanyak 24,23 juta ton pada tahun lalu atau naik 23,05%, dibandingkan realisasi tahun lalu 19,69 juta ton.
“Kami optimistis, dengan perkiraan kinerja operasional tersebut dapat mendongkrak perolehan laba bersih dan pendapatan sepanjang 2017. Namun, angka detailnya masih dalam audit,” pungkas Arviyan.
Komentar