Endang Muchtar
Jumat, 19 Juni 2026 - 16:54 WIB

Produsen Tahu-Tempe Keluhkan Subsidi Kedelai Yang Masih Tergantung Dari Impor

Perajin tahu-tempe membersihkan kacang kedelai salah satu usaha rumahan, di Ciputat, Tangsel, belum lama ini. (Foto/Endang Muchtar/ECONOMICZONE)
Perajin tahu-tempe membersihkan kacang kedelai salah satu usaha rumahan, di Ciputat, Tangsel, belum lama ini. (Foto/Endang Muchtar/ECONOMICZONE)
Dummy

ECONOMIC ZONE - Keputusan pemerintah menugaskan Perum Bulog menyalurkan subsidi kedelai sebesar Rp2.000 per kilogram (kg) kepada produsen atau perajin tahu dan tempe dinilai dapat membantu meredam tekanan biaya produksi dalam jangka pendek. Sementara, Indonesia tengah berambisi mengejar swasembada kedelai.

Karena itu, kebijakan itu disebut belum menyentuh akar persoalan yang selama ini membuat krisis kedelai terus berulang di Indonesia.

Pengamat Pertanian Khudori, menilai subsidi yang diberikan pemerintah menunjukkan respons cepat terhadap kenaikan harga kedelai yang belakangan membebani perajin tahu dan tempe. Namun, ia mengingatkan masalah utama terletak pada tingginya ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor, dan terus menyusutnya produksi dalam negeri.

"Bagi produsen tahu dan tempe, kenaikan harga bahan baku sekitar 25% itu membuat mereka kelimpungan. Nilainya di atas toleransi," kata Khudori dalam keterangannya, dikutip Jumat (19/6/2026).

Sebagaimana diketahui, pemerintah melalui rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Pangan pada 9 Juni 2026 lalu, telah menugaskan Bulog menyalurkan subsidi kedelai Rp2.000 per kg kepada perajin tahu dan tempe. Pada tahap awal, volume subsidi yang disiapkan mencapai 250 ribu ton.

Menurut Khudori, langkah tersebut memang diperlukan untuk menjaga keberlangsungan usaha para perajin tahu dan tempe yang saat ini menghadapi lonjakan harga bahan baku. Harga kedelai yang sebelumnya berada di kisaran Rp9.000 per kg kini telah naik menjadi sekitar Rp11.300 per kg.

Kenaikan itu dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari melonjaknya harga kedelai dunia, kenaikan biaya logistik, hingga pelemahan nilai tukar rupiah.

"Seperti usaha lainnya, produsen tahu dan tempe perlu kestabilan harga bahan baku. Ketika harga bahan baku tahu dan tempe, yakni kedelai, naik terus-menerus, bahkan naik setiap hari, mereka pusing," ujarnya.

Ia mengatakan, ruang gerak pelaku usaha tahu dan tempe relatif terbatas. Menaikkan harga jual berisiko menekan permintaan masyarakat, sementara mengecilkan ukuran produk seringkali memicu keluhan konsumen.

Karena itu, Khudori mengakui subsidi dinilai penting untuk mencegah terulangnya gelombang mogok produksi yang beberapa kali terjadi dalam dua dekade terakhir. Khudori mencatat aksi mogok produsen tahu dan tempe pernah terjadi pada 2008, 2010, 2012, 2013, 2015, 2021, dan 2022 akibat lonjakan harga kedelai impor.

"Pemberian subsidi adalah upaya tidak ingin memutar ulang jarum jam seperti di masa lalu, yakni pemerintah (dahulu) baru merespons setelah ada produsen tahu-tempe mogok produksi," tutur dia.

Meski demikian, ia menilai subsidi hanya menjadi solusi sementara. Menurutnya, akar persoalan justru berada pada struktur pasokan kedelai nasional yang sangat bergantung pada impor.

Dari total kebutuhan kedelai sekitar 2,7 juta ton per tahun untuk industri tahu dan tempe, produksi dalam negeri saat ini bahkan tidak mencapai 10% nya. Selebihnya dipenuhi dari impor, terutama dari Amerika Serikat, Brasil, dan Argentina.

"Ketergantungan Indonesia pada kedelai impor amat tinggi, lebih 90% dari kebutuhan," sebutnya.

Pada saat yang sama, minat petani untuk menanam kedelai terus menurun. Berdasarkan data yang dihimpunnya, menunjukkan luas panen kedelai nasional menyusut drastis dari 1,66 juta hektare pada 1992 menjadi hanya sekitar 135 ribu hektare pada 2024.

Penurunan luas tanam tersebut berbanding lurus dengan produksi nasional yang merosot tajam. Produksi kedelai yang pernah mencapai 1,87 juta ton pada 1992 kini hanya sekitar 230 ribu ton per tahun.

Menurut Khudori, kondisi itu terjadi karena keuntungan usaha tani kedelai jauh lebih rendah dibandingkan komoditas lain seperti padi maupun jagung.

"Sebagai makhluk ekonomi yang rasional, wajar petani enggan bertanam kedelai. Petani memilih menanam komoditas yang menjanjikan," kata Khudori.

Ia menambahkan, selain margin keuntungan yang kecil, petani juga harus menghadapi ketidakpastian harga akibat derasnya arus impor kedelai murah. Berbeda dengan padi yang memiliki Harga Pembelian Pemerintah (HPP), kedelai hingga kini masih sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar.

Akibatnya, ketika harga kedelai impor turun, harga kedelai lokal ikut tertekan sehingga petani semakin enggan menanam komoditas tersebut.

Khudori menilai jika pemerintah serius mengejar target swasembada pangan, maka kedelai perlu ditempatkan sebagai salah satu komoditas prioritas nasional.

"Apabila negara ini berkehendak berswasembada, perlu ada koreksi fundamental terhadap kebijakan yang ada. Swasembada tidak bisa dicapai lewat kebijakan parsial. Kebijakan harus padu dan komprehensif," ujarnya.

Menurut dia, upaya tersebut harus mencakup pembenahan tata niaga, perlindungan petani, perluasan lahan tanam, dukungan anggaran, hingga penguatan riset dan teknologi budidaya.

"Kala swasembada jadi program pemerintah, semua kementerian/lembaga harus bersatu mewujudkannya. Itu hanya bisa terjadi manakala kedelai ditempatkan sebagai komoditas prioritas dan penting," pungkasnya.

Mengutip situs resmi Kementerian Pertanian (Kementan), kebutuhan kedelai nasional tahun 2026 diproyeksikan mencapai 2,7 juta ton. Sekitar 95 persen atau 2,6 juta ton harus dipenuhi dari impor. Rata-rata produksi kedelai nasional dalam lima tahun terakhir mencapai sekitar 227 ribu ton per tahun dengan luas tanam 136 ribu hektare dan produktivitas rata-rata 1,6 ton per hektare. Hingga April 2026, produksi nasional mencapai 4.982 ton dari luas tanam 7.018 hektare.

 

Dummy

Komentar

Dummy

Berita Lainnya

 
Nasional
18/09/2026 13:34 WIB
MELALUI 4 (EMPAT) PROGRAM MANFAAT UTAMA, ASABRI BAYARKAN HAK PESERTA LEBIH DARI RP12,7 TRILIUN; ASABRI HADIR DI SETIAP TAHAP PENGABDIAN, MENJAGA AMANAH NEGARA DAN KESEJAHTERAAN PESERTA
PT ASABRI (Persero) terus menjalankan amanah dalam memberikan perlindungan sosial kepada peserta ASABRI sebagai bagian dari penghargaan negara atas pengabdian kepada bangsa dan negara
 
Nasional
16/09/2026 19:06 WIB
5 Tahun Beroperasi, blu by BCA Digital Dongkrak Lonjakan Transaksi Gaya Hidup dan Pembayaran Global
Pertumbuhan ini digerakkan oleh porsi demografi anak muda yang sangat dominan, di mana 56% nasabah blu merupakan Gen Z dan 35% merupakan Milenial (total 91% digital natives). Laju akuisisi nasabah baru pun dipimpin oleh Gen Z dengan pertumbuhan 30% YoY, disusul Milenial sebesar 20%…
 
Nasional
15/09/2026 08:07 WIB
Telkom Solution Raih Penghargaan Business Impact & Industry Growth untuk Market B2B ICT di Indonesia
Penghargaan KGI tegaskan kontribusi Telkom Solution bagi transformasi digital di berbagai Industri.
 
Nasional
14/09/2026 22:02 WIB
Dorong Predictive Cyber Intelligence, MDI Ventures Sabet Indonesia Cyber Security Excellence Award 2026
Investasi strategis di CYFIRMA perluas kolaborasi solusi keamanan siber yang inovatif di Indonesia.
 
Nasional
13/09/2026 18:13 WIB
Sequis SHEPRENEUR Gelar SHElebration, Rayakan Semangat dan Perjalanan 60 Perempuan Wirausaha
SHElebration menjadi momentum untuk memberikan apresiasi kepada 60 perempuan wirausaha sekaligus merayakan pencapaian TOP 3 SHEPRENEUR 2026
 
Nasional
11/09/2026 17:59 WIB
TelkomGroup Dorong Gaya Hidup Berkelanjutan melalui Zero Plastic Movement
Sediakan fasilitas water refill station bagi karyawan dan perkuat kolaborasi komunitas hingga pelaku usaha.
 
Nasional
10/09/2026 21:55 WIB
Raih Golden Trophy dan The Most Committed GRC Leader 2026, Telkom Akses Perkuat Tata Kelola, Manajemen Risiko, Kepatuhan, dan ESG
Pertahankan predikat Bintang 5 tiga tahun berturut-turut, tegaskan komitmen GRC sebagai fondasi keberlanjutan bisnis.
Ad Placholder