ECONOMIC ZONE - Awal Maret 2021 saat ini, pandemi Corona genap satu tahun melanda Indonesia. Banyak sektor yang terpengaruh akibat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan Pemerintah Indonesia, guna menekan angka penularan Covid-19.
Salah satu sektor yang sangat berpengaruh akibat pandemi Corona sekarang ini ialah sektor Ekonomi. Masyarakat kelas menengah atas maupun bawah sangat merasakan dampak yang diakibatkan pandemi severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 atau Covid-19.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan, model pemulihan ekonomi saat ini berbentuk huruf K-shaped, jika dianalisis per sektoral. Huruf K artinya ada sektor yang justru booming saat pandemi, misalnya komoditas ekspor dan ekonomi digital yang kenaikan presentasenya mengalahkan sektor lain.
"Salah satu contoh adalah jasa pesan makanan online yang naik 24%, disusul Fintech dan E-commerce yang gencar dicari oleh konsumen," ujar Bhima Yudhistira saat diwawancarai Economiczone.id, di Jakarta, Selasa (2/3/2021).
Sementara huruf K yang berada dibawah menunjukkan, ada sektor yang mengalami resesi semakin dalam. Seperti, bisnis perhotelan dan transportasi ataupun sektor pariwisata yang diperkirakan jadi sektor paling akhir untuk bangkit dari masa pandemi.
"Bukti hotel dijual murah karena pemilik tidak sanggup lagi menanggung biaya operasional, ditengah okupansi kamar yang rendah, menjadi fenomena yang terjadi diseluruh wilayah Indonesia saat ini," jelas Bhima.
Pergerakan masyarakat setahun pandemi, lanjut Bhima, masih mengalami penurunan, dibanding baseline. Hal ini disebabkan karena, mobilitas penduduk ke pusat perbelanjaan turun 23% dan untuk perkantoran turun 29%. Kerbatasannya pergerakan penduduk membuat sektor retail terpukul, industri manufaktur lakukan phk massal dan jasa transportasi serta pariwisata alami resesi berkepanjangan.
"Ekonomi yang turun 2, 07% pada tahun 2020 lalu jadi sinyal pelemahan ekonomi terdalam sejak krisis tahun 1998 atau 21 tahun terakhir," tambahnya.

Melihat kondisi saat in, Bhima menyarankan agar treatment yang dilakukan Pemerintah sebaiknya difokuskan ke sektor yang paling rentan alami resesi. Stimulus yang diberikan kepada masyarakat sebaiknya difokuskan kepada satu program dan dilakukan secara bertahap.
"Contoh, bantuan subsidi upah harusnya dilanjutkan bukan dengan kartu pra kerja. Subsidi upahnya sebaiknya difokuskan terlebih dahulu pada bidang jasa transportasi dan pariwisata. Dengan bantuan tersebut, setidaknya para pekerja yang bekerja di bidang tersebut tidak jatuh langsung mengalami resesi," jelas Bhima.
Menurut Bhima Yudhistira, untuk saat ini tidak ada jalan lain untuk memunculkan kembali gairah masyarakat penggiat ekonomi, selain pulihkan mobilitas dengan percepatan vaksinasi dan pengendalian penularan pandemi. Karena dengan melaksanakan program vaksinasi secara berkala, masyarakat bisa memiliki harapan untuk membangkitkan situasi ekonomi mereka.
"Untuk masyarakat ekonomi menengah ke bawah harus tetap berhemat, karena tidak ada jaminan kapan pandemi ini berakhir. Dan bagi masyarakat kelompok ekonomi menengah ke atas, diharapkan tetap belanja dan mengeluarkan tabungannya agar roda ekonomi berjalan," tutup Bhima Yudhistira.
Komentar