Roni.M
Senin, 31 Desember 2018 - 22:01 WIB

Paru-Paru di Gang Kelinci

Suasana penghijauan di Pela Mampang yang dibina Astra.Foto/Roni.M/ECONOMICZONE
Suasana penghijauan di Pela Mampang yang dibina Astra.Foto/Roni.M/ECONOMICZONE

ECONOMIC ZONE - Banyak orang menyebut pepohonan dan segala macam tanaman sebagai paru-paru bumi. Bagaimana bila satu saat lahan untuk menanamnya tak tersedia lagi?

Walau terbilang lagu lama, boleh jadi masih banyak orang di jaman kekinian yang mengenal lagu Gang Kelinci yang dulu dibawakan oleh Lilis Suryani. Diciptakan oleh Titiek Puspa, lagu ini berkisah tentang kehidupan di Jakarta yang sepintas terlihat indah dan megah namun terpaksa harus berjubel lantaran lahan yang terbatas sedangkan penduduknya sangat banyak. Meski mengambil setting di salah satu gang di Kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, potret kehidupan dalam lagu Gang Kelinci seolah mewakili gambaran di hampir seluruh Kawasan di Ibu Kota yang kumuh, padat dan penuh sesak.

Di kawasan yang semacam itu pula lah Sudaryatmo tinggal bersama istri dan anak-anaknya. Tepatnya di RW01 Kelurahan Pela Mampang, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Dan sejak sepuluh tahun lalu, Sudaryatmo dipercaya oleh warga setempat untuk menjabat sebagai Kepala RW. “Dulu Kawasan di sini ya seperti kampung-kampung di Jakarta pada umumnya. Gersang, kumuh, sesak, nggak ada pohon atau sekadar tanaman untuk menyejukkan pandangan, karena memang tidak ada lahan,” ujar Sudaryatmo, saat ditemui di rumahnya, Minggu (23/12).

Dengan kondisi yang seperti itu, maka pria yang bekerja di salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini mulai berpikir kira-kira apa saja yang bisa Ia lakukan sebagai Kepala RW untuk dapat berbuat sesuatu yang lebih baik. Dalam benak Sudaryatmo bila memang tak ada yang bisa dilakukannya dalam memberikan hal baik untuk lingkungan yang Ia pimpin, maka lebih baik jabatan sebagai Kepala RW itu tak usah Ia ambil. “Dan dari sana Saya mulai berpikir tentang penghijauan. Anak-anak di sini perlu dapat sirkulasi udara yang layak, pandangan yang juga layak, bukan hanya melihat tembok dan gedung-gedung saja,” tutur Sudaryatmo.

Got

Beranjak dari sana, Sudaryatmo pun menyampaikan idenya kepada warga, khususnya pada para pengurus RW01 di bawah kepemimpinannya. Para pengurus setuju untuk mendukung keinginannya. Hal pertama yang lalu dilakukan Sudaryatmo adalah menghadap Pak Lurah untuk meminta ijin memanfaatkan lahan di atas got-got yang sudah tidak berfungsi untuk dijadikan lahan untuk sarana penghijauan. “Saya ingat betul, saat itu tahun 2009. Pak Lurah Mampang Prapatan saat itu alhamdulillah mendukung sekaligus penasaran, bagaimana penghijauan bisa dilakukan di lokasi gang-gang sempit seperti tempat kami ini,” ungkap Sudaryatmo.

Waktu pun terus berlalu. Warga yang semula cuek dan bahkan menganggap Pak RW-nya ‘kurang kerjaan’, mulai ikut merasakan dampak positif dari penghijauan yang dilakukan. Beberapa rumah bahkan merelakan Kawasan depannya dipasang besi di bagian atas serupa gapura untuk kemudian ditanami tanaman jalar di bawahnya. Selain menggalakkan penghijauan, Sudaryatmo pun menekankan pentingnya memelihara kebersihan di kawasannya. “Karena kalau banyak tanaman tapi nggak ditata dengan baik, kotor, sampah di mana-mana, maka justru akan terlihat kumuh. Selain nggak enak dilihat, juga berpotensi jadi penyakit untuk warga,” papar Sudaryatmo.

Bank Sampah

Untuk mengatasi masalah kebersihan, Sudaryatmo rupanya punya cara unik. Tak hanya mengandalkan imbauan yang sifatnya normatif, Sudaryatmo pun menggerakkan para pemuda di kawasannya lewat Karang Taruna yang salah satu tugasnya adalah mengelola Bank Sampah. Diakuinya bahwa Bank Sampah merupakan program dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk dapat menanggulangi masalah sampah di Ibu Kota. “Tapi meski program Pemprov, nggak semua Kelurahan, nggak semua RW bisa jalankan karena tidak ada orang untuk mengurusnya. Di kami, tugas itu saya berikan ke Karang Taruna, ke anak-anak muda agar mereka punya kegiatan positif, nggak hanya nongkrong nggak keruan,” ungkap Sudaryatmo.

Dan benar saja, Bank Sampah RW01 secara perlahan menjadi salah satu bank sampah yang cukup aktif dan terkelola dengan baik diantara bank-bank sampah lain di lingkung Kelurahan Pela Mampang. Herman, sang Kepala Karang Taruna bahkan berani mengklaim bahwa nasabah bank sampahnya kini tidak hanya datang dari RW01 saja, melainkan juga dari RW-RW lain di sekitarnya. Hal itu terjadi karena si nasabah tertarik dengan program bank sampah yang ada di RW01, sedangkan di RWnya sendiri program bank sampah tidak berjalan. “Dulu agak susah juga mengajak warga untuk mau memilah sampahnya sejak dari rumah. Tapi karena terbukti bisa jadi duit, lama-lama tertarik juga. Banyak yang dulu antipati justru sekarang semangat karena sampah plastik yang dulu dibuang kini bisa dijual dan menghasilkan uang,” ujar Herman.

 

Catering

Jika para pemuda diberdayakan lewat wadah Karang Taruna, para ibu rumah tangga dan pemuda putri ‘disentuh’ Sudaryatmo dengan program Usaha Mikro dan Kecil Menengah (UMKM) yang membuka bisnis catering dengan bahan baku sebagian dihasilkan dari beragam tanaman yang ditanam bersama di secuil lahan yang diwaqafkan dari salah seorang warga. “Ada sekitar 200an meter lahan tidur, belum terpakai oleh yang punya lahan. Saya ijin saja untuk dipakai penghijauan. Dan alhamdulillah hasilnya seperti ubi, singkong, ketela, bisa kita pakai untuk bahan baku catering. Memang tidak semuanya. Sebagian besar kami masih beli di pasar karena memang terhambat ketersediaan lahan,” keluh Sudaryatmo.

Namun dari upayanya tersebut, kini warga sudah tak lagi saling cuek dan antipasti terhadap program-program RW karena sudah secara langsung dapat merasakan sendiri hasil dari program-program tersebut. Catering warga yang digagasnya disebut Sudaryatmo kini telah mulai rutin mendapat pesanan dari Pemprov DKI setiap kali ada acara di sana. Para warga pun tak perlu repot bila ingin menggelar hajatan, karena dengan adanya UMKM catering dan sikap saling bantu di sesame warga, segala kebutuhan bisa dipenuhi secara bersama-sama diantara warga RW01. “Dan dari semua program ini, tak bisa dipisahkan adalah dukungan dari PT Astra International Tbk melalui program Kampung Berseri Astra (KBA)nya. Karena sudah banyak sekali program-program di lingkungan kami yang telah disupport penuh oleh Astra, mulai dari penyediaan benih tanaman untuk penghijauan, pelatihan pengolahan Tanaman Obat Keluarga (Toga), pelatihan memasak untuk UMKM sampai pelatihan pengolahan saham untuk bank sampah kami,” terang Sudaryatmo.

Satu hal yang paling disuka oleh Sudaryatmo dari adanya program KBA adalah sifatnya yang tidak membawa satu program yang sudah fix, melainkan mensupport program-program yang sudah ada dan telah digagas sebelumnya oleh warga. Setiap akhir tahun, dijelaskan, Sudaryatmo, pihaknya selalu mengundang pihak Astra untuk ikut hadir dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat RW. Gunanya untuk dapat membangun sinergi terkait program-program RW apa saja yang bisa disupport oleh Astra melalui program KBA. “Dengan sistem yang seperti itu, kami lebih senang karena sistemnya lebih bottom up. Lebih mendengar usulan dari warga. Bukan kita tiba-tiba disuruh program apa gitu, yang belum tentu cocok dengan kondisi warga di sini,” papar Sudaryatmo.

Meski terlihat sederhana, hal-hal kecil yang diinisiasi oleh Sudaryatmo boleh jadi adalah harapan baru dalam rangka memperbanyak Kawasan hijau di wilayah DKI Jakarta. Pemprov DKI mencatat hingga saat ini ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Ibu Kota masih sangat jauh dari kata ideal. Secara sederhana, keberadaan RTH bisa dianggap cukup ideal bila minimal 30 persen dari luas wilayah yang ada. Sementara di DKI Jakarta ketersediaan RTH sejauh ini masih di bawah 10 persen. “Saya sih nggak muluk-muluk. Bagaimana agar anak-anak di RW ini masih bisa lihat yang hijau-hijau (tanaman) agar penglihatannya sehat, masih bisa bernafas dengan sehat, paru-parunya sehat karena banyak tanaman, lalu kawasannya juga bersih, sehat karena sampahnya dikelola dengan baik. Melihat itu semua sudah berjalan saja, saya sudah sangat bersyukur,” ungkap pria yang telah lima kali berturut-turut tak tergantikan sebagai Kepala RW sejak tahun 2008 sampai sekarang ini.

Komentar

Berita Lainnya

 
Nasional
12/06/2019 14:31 WIB
Banjir di Sulawesi dan Kalimantan, Telkomsel Terus Jaga Kualitas Jaringan
Telkomsel terus menjaga kualitas layanan telekomunikasi di kawasan tersebut agar tetap lancar baik saat  terjadi banjir maupun paska banjir.
 
Nasional
01/06/2019 18:15 WIB
Telkomsel Berangkatkan 7.000 Pelanggan Mudik Gratis
Telkomsel memberangkatkan sekitar 7.000 pelanggan mudik secara gratis di 4 mode transportasi yaitu pesawat, bus, kapal laut dan kereta api airport railink. Para peserta dalam program Mudik Bareng Telkomsel ini kembali ke kampung halaman di 18 kota tujuan.
 
Nasional
01/06/2019 18:08 WIB
Mudik Bareng 2019 XL Axiata Berangkatkan 1.300 Mitra Penjual Pulsa Pulang Kampung
Melanjutkan program rutin yang sudah berlangsung setiap tahun, PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) kembali menggelar program Mudik Bareng bagi para mitra penjual pulsa dan produk layanan XL Axiata dari wilayah Jabodetabek.
 
Nasional
31/05/2019 11:52 WIB
Asabri Lepas 1.300 Pemudik Lewat BUMN Mudik Bareng 2019
PT Asabri (persero) memberangkatkan 1300 Pemudik, ke kampung halamannya secara gratis, dalam program BUMN Mudik Bareng 2019
 
Nasional
30/05/2019 21:57 WIB
TelkomGroup Antar 8.250 Pemudik Pulang Kampung
Menyambut Idul Fitri 1440 H dan guna memberi kemudahan kepada warga masyarakat yang akan mudik ke kampung halamannya masing-masing, TelkomGroup kembali menggelar mudik bersama dengan memberangkatkan tidak kurang dari 8.250 pemudik yang dilaksanakan di berbagai daerah.
 
Nasional
29/05/2019 17:16 WIB
IPC Lepas 22 Ribu Peserta Mudik Gratis Tujuan 16 Kota Di Jawa Dan Sumatera
PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) / IPC memberangkatkan 22 ribu peserta Mudik Gratis bersama IPC Grup 2019. Sebanyak 410 bus berstandar pariwisata dikerahkan untuk mengantar para pemudik dengan tujuan 16 kota di Jawa dan Sumatera.
 
Nasional
27/05/2019 20:00 WIB
Safari Ramadan, Bank BTN Donasikan Rp2,24 Miliar
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) telah menyelesaikan rangkaian acara Safari Ramadan di 52 wilayah Indonesia dengan total nilai bantuan yang tersalurkan mencapai Rp 2,24 miliar.